Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

KSAL: KRI Nanggala-402 Sudah 17 Kali Latihan Tembak Torpedo

Jumat 07 May 2021 08:02 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama KSAL Laksamana Yudo Margono saat rapat kerja bersama Komisi I DPR di kompleks Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (6/5).

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama KSAL Laksamana Yudo Margono saat rapat kerja bersama Komisi I DPR di kompleks Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (6/5).

Foto: Dispenal
Panglima TNI menyebut tenggelamnya KRI Nanggala-402 kehilangan bagi bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala-402 beserta 53 prajurit terbaik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) di perairan Bali utara pada 21 April 2021, merupakan kehilangan bagi bangsa Indonesia, khususnya TNI. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, TNI tidak hanya kehilangan alutsista strategis, tetapi juga kehilangan 53 prajurit terbaik yang gugur dan selamanya tidak akan pernah kembali kepada keluarga mereka.

Para prajurit tidak dapat lagi melanjutkan tugas menjaga perairan nusantara. Hadi mengatakan, pemerintah telah memberikan penghargaan atas pengabdian para prajurit tersebut dengan memberikan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi serta tanda jasa bintang Jalasena.

"Pemerintah juga memberikan beasiswa kepada seluruh putra dan putri para prajurit tersebut sampai setingkat S-1. Seluruh hak ahli waris juga telah diberikan," katanya saat rapat kerja bersama Komisi I DPR di kompleks Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (6/5).

Hadi menyampaikan, tenggelamnya KRI Nanggala-402 beserta 53 prajurit terbaik TNI AL merupakan insiden dan menjadi pelajaran yang sangat berharga, bahwa tugas sebagai seorang prajurit TNI mengandung risiko yang sangat tinggi. "Di samping untuk menghadapi musuh, juga harus menghadapi kondisi alam yang bukan menjadi ruang hidupnya, sebagaimana yang dialami oleh para awak kapal selam," ucap Hadi.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono memaparkan kronologis kecelakaan KRI Nanggala-402. Mulai tahap persiapan kapal akan melaksanakan latihan, saat melaksanakan penyelaman, hingga kapal kehilangan kontak, dan dinyatakan tenggelam yang dilanjutkan dengan proses pencarian.

Menurut Yugo, latihan penembakan torpedo yang dilaksanakan KRI Nanggala-402 merupakan latihan rutin dengan tujuan untuk melatih kemampuan prajurit. Latihan penembakan torpedo SUT (surface and underwater target) baik kepala perang maupun kepala latihan dengan berbagai sasaran baik kapal permukaan maupun target latihan lainnya sudah sering dan terbiasa dilakukan oleh KRI Nanggala-402. Bahkan hal itu sudah dilakukan 17 kali.

Yudo menambahkan, KRI Nanggala-402 juga pernah menenggelamkan sasaran saat melaksanakan latihan di perairan Bali. "Dari sisi kesiapan latihan KRI Nanggala-402 masih layak untuk melaksanakan latihan karena sudah diuji gladi tugas tempur tingkat I maupun tingkat II sebagai persyaratan untuk kapal-kapal pada latihan tingkat III terpadu antarsatuan," kata Yudo.

Dia juga menyampaikan riwayat pemeliharaan KRI Nanggala-402 kurun waktu pada 2012 sampai dengan 2021. Dia menyebut, pada 2012 dilaksanakan pemeliharaan tingkat overhaul di Korea Selatan. Selanjutnya setiap tahun dilaksanakan proses pemeliharaan tingkat menengah di komando utama.

Hingga pada 2020 dilaksanakan pemeliharaan menengah, dan docking dalam rangka latihan tahun 2021 dilaksanakan pemeliharaan tingkat menengah.

Dalam rapat yang dipimpin oleh Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid, selain membahas tenggelamnya KRI Nanggala-402, juga menyinggung gugurnya Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Papua Mayjen Anumerta I Gusti Putu Danny dan modernisasi alutsista.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA