Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Kenaikan Laut dari Pencairan Es Diprediksi Lebih Parah

Jumat 07 May 2021 07:53 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Gunung es berbentuk persegi panjang yang mengambang di Laut Weddell di lepas pantai Antartika.

Gunung es berbentuk persegi panjang yang mengambang di Laut Weddell di lepas pantai Antartika.

Foto: NASA
Water expulsion mechanism membuat pencairan es antartika menjadi lebih buruk.

REPUBLIKA.CO.ID, ANTARTIKA -- Suhu global terus meningkat akibat kerusakan iklim antropogenik. Air yang saat ini terkunci dalam bentuk es Antartika akan mencair ke lautan.

Kejadian ini  menaikkan permukaan laut ke titik yang akan berdampak signifikan pada komunitas pesisir.  Selama 1.000 tahun ke depan, prediksi terbaik menyebutkan kenaikan air laut setinggi 3,2 meter.

Baca Juga

Namun, penelitian baru menunjukkan angka yang lebih tinggi. Menurut prediksi yang direvisi, kenaikan selama milenium berikutnya bisa jadi satu meter lebih tinggi lagi atau 4,2 meter, yang menghasilkan peningkatan tambahan hingga 30 persen.

Ini adalah hasil yang akan memiliki implikasi serius bagi cara kita memodelkan efek kerusakan iklim di masa mendatang.

“Setiap proyeksi kenaikan permukaan laut yang diterbitkan karena mencairnya lapisan es Antartika Barat yang didasarkan pada pemodelan iklim harus direvisi,” kata ilmuwan Bumi dan planet Jerry Mitrovica dari Universitas Harvard, dilansir dari Science Alert, Selasa (4/5).

Menurut perhitungan baru, itu semua ada hubungannya dengan sesuatu yang disebut water expulsion mechanism. Saat lapisan es mencair, batuan dasar Antartika, yang saat ini berada di bawah permukaan laut, akan naik, mengeluarkan air lelehan di sekitarnya ke laut juga. Itu adalah tambahan air yang bertanggung jawab untuk permukaan laut yang semakin tinggi.

“Besarnya efek mengejutkan kami,” kata ilmuwan Bumi dan planet Linda Pan dari Universitas Harvard. “Studi sebelumnya yang menganggap mekanisme tersebut dianggap tidak penting,” ujarnya lagi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA