Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Pendidikan Berbasis Kebudayaan Perkuat Identitas Bangsa

Jumat 07 May 2021 07:33 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Muhammad Hafil

Pendidikan Berbasis Kebudayaan Perkuat Identitas Bangsa. Foto: Ilustrasi Peta Jalan Pendidikan

Pendidikan Berbasis Kebudayaan Perkuat Identitas Bangsa. Foto: Ilustrasi Peta Jalan Pendidikan

Foto: Republika/Thoudy Badai
Pendidikan Berbasis Kebudayaan Perkuat Identitas Bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (KBST) Herawati mengatakan Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan oleh berbagai persoalan, seperti krisis identitas, konflik horizontal dan multikultur, kriminalitas dan degradasi moral. Selain itu, terjadi juga memudarnya nilai-nilai kebangsaan yang mengakibatkan ketidakstabilan di berbagai aspek kehidupan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, maka pendidikan berbasis kebudayaan memiliki peran yang strategis sebagai penguat identitas bangsa melalui eksplorasi dan elaborasi nilai-nilai budaya lokal. Tujuan dari hal tersebut adalah mewujudkan warga negara yang memiliki kesadaran kewarganegaraan multikultural.

Penguatan identitas bangsa melalui pendidikan berbasis kebudayaan dapat dilakukan dengan Integrasi pendidikan berbasis kebudayaan dalam desain kurikulum serta optimalisasi pendidikan kewarganegaraan berbasis kebudayaan.

"Esensi dari merdeka belajar adalah kemandirian dan kemerdekaan. Dua hal tersebut merupakan esensi pendidikan yang diterapkan oleh Ki Hajar Dewantara. Sudah sepatutnya esensi dari merdeka belajar itu menginspirasi kita dalam mengupayakan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan," kata Herawati, dalam keterangannya, Kamis (6/5).

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Aminudin Aziz mengatakan budaya mempengaruhi konstruksi wacana masyarakat penutur suatu bahasa. Di wilayah Asia, rata-rata masyarakatnya berwacana dengan pola sirkular.

Hal ini berbeda dengan orang Inggris yang berwacana dengan pola linear sehingga jelas apa yang mau dikatakan. Berbeda lagi dengan masyarakat Jerman yang bertutur dengan pola berpendar yang melebar dan Arab yang berwacana dengan pola paralel.

Dalam kaitannya dengan pendidikan di Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya, diperlukan pemahaman awal mengenai monokultural dan multikultural. Kemudian diversifikasi kurikulum dan asesmen keberhasilan pembelajaran yang relevan dengan latar budaya juga sebaiknya diupayakan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA