Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Tammy Jadi Mualaf Setelah Dibantu Muslim yang tak Dikenal

Jumat 07 May 2021 05:01 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Muhammad Hafil

 Tammy Jadi Mualaf Setelah Dibantu Muslim yang tak Dikenal. Foto: Muslimah mualaf (ilustrasi).

Tammy Jadi Mualaf Setelah Dibantu Muslim yang tak Dikenal. Foto: Muslimah mualaf (ilustrasi).

Foto: Reuters/Olivia Harris/ca
Kebaikan seorang Muslim tak dikenal membuat Tammy jadi mualaf.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tammy Parkin dilahirkan dan dibesarkan di kota kecil New Hampshire, Amerika Serikat. Penduduk kota di negara bagian itu adalah kulit putih yang menganut agama mayoritas di tempat itu. Ia mengaku berasal dari keluarga yang sangat miskin.

"Karena gereja akan memasak makanan untuk orang miskin. (Rumah ibadah agama mayoritas) selalu menjadi bagian dari hidup saya," cerita Tammy seperti dilansir About Islam, Rabu (6/5).

Tinggal di kota kecil dengan pengawasan orang tua yang minim, memasuki masa puber adalah waktu yang sulit bagi dirinya. Disebutnya saat itu hidupnya ketika membosankan sebagai remaja dan dia telah membuat pilihan yang buruk. 

"Tuhan memberkati saya dengan gadis-gadis cantik ini. Saya telah menempuh jalan yang buruk dan putri saya membutuhkan saya. Jadi saya melangkah maju dan saya mencoba yang terbaik untuk melakukan yang benar menurut mereka," ujar Tammy.

Tammy adalah seorang ibu tunggal. Ia harus bekerja sangat keras untuk menghidupi kedua putrinya, terkadang dua atau tiga pekerjaan sekaligus. Kemudian ia membesarkan anak perempuannya itu dengan cara berbeda dari dia dibesarkan oleh orang tuanya.

"Meskipun saya bekerja keras, seringkali kami tidak punya uang ekstra untuk apa pun selain untuk kebutuhan dasar. Itu sulit," keluh Tammy.

Baca Juga

Baca juga : Asya Pelajari Banyak Agama Namun Akhirnya Memilih Islam

Pasca tragedi 9/11, Tammy menjadi sangat konservatif secara politik. Ia menghabiskan banyak waktu menonton berita FOX dan mendengarkan talk radio. Dari berita-berita yang dikonsumsinya, ia berpikir telah mengetahui segalanya tentang Islam.

"Pada kenyataannya saya belum pernah bertemu seorang Muslim dalam hidup saya tetapi entah bagaimana dengan mendengarkan berita saya pikir saya tahu segalanya," kata Tammy.

Bahkan, Tammy akan bersikap keras saat ada orang ingin membela Islam, dan merasa yakin dirinya lebih baik dari mereka. Ia mengasumsikan seorang muslim adalah orang Arab. Namun setelah bertahun-tahun, baru menyadari jika dirinya tidak mengetahui apa-apa tentang Islam.

"Apa yang saya asumsikan adalah seorang Muslim adalah seorang Arab. Satu-satunya gambaran dan opini yang saya miliki adalah apa yang dikatakan dan ditunjukkan Fox News kepada saya," ungkap Tammy.

Kemudian ketika dua putrinya lulus SMA, mereka memilih meninggalkan rumah seperti remaja Amerika pada umumnya. Menurut Tammy, hal ini berbeda dengan orang Islam, di mana seorang anak akan tinggal bersama orang tuanya hingga menikah. Kondisi ini membuat dirinya kesepian, meski dia memiliki rumah yang cukup besar.

"Di sanalah saya berada di rumah besar ini dan semua yang telah saya kerjakan dan semua yang saya ketahui telah hilang," kata Tammy.

Pada masa itu, Tammy merasa depresi berat. Bahkan dia kesulitan mengetahui jati dirinya sebagai pribadi dan bukan hanya sebagai seorang ibu. Saat itu adalah waktu yang sangat kelam bagi dirinya. Imbasnya, ia harus kehilangan pekerjaannya dan memutuskan untuk pergi dari kampung halamannya menuju Florida.

"Saya menjual semua yang saya miliki, rumah saya, mobil saya, semuanya dan membeli tiket kereta api bersama seorang teman yang jauhnya lebih dari 1000 mil di Florida. Saya pikir ini adalah langkah yang bagus tetapi sebenarnya justru sebaliknya," lanjutnya.

Sayangnya, Tammy justru harus terdampar di Florida karena kehabisan uang, tanpa keluarga. Kemudian pada saat itu, ia belajar tentang komputer dan internet dan menemukan ruang obrolan keagamaan, termasuk Islam. Dengan ruang obrolan keagamaan itu dia berharap menemukan bimbingan.

Baca juga : Penyesalan Orang Kafir di Akhirat

"Orang kedua yang saya ajak ngobrol di ruangan ini adalah seorang Muslim. Dan meskipun saya sombong dan marah, dia mendengarkan," tutur Tammy.

Seorang muslim yang menjadi teman obrolannya tersebut mendengarkan kesulitan yang Tammy hadapi, dan menawarkannya bantuan. Padahal, kata dia, seorang muslim itu tidak mengenalnya sama sekali. Seorang Muslim itu juga mengetahui kalau dirinya tidak dapat segera mengembalikan bantuan itu. Tetapi seorang Muslim tetap mengirimi uang agar dirinya bisa kembali ke keluarganya.

"Saya tidak pantas menerima kebaikan ini. Saya telah memuntahkan beberapa hal jahat tentang Islam dan inilah orang yang mengulurkan tangan yang sangat saya butuhkan," jelasnya.

Walhasil, kebaikan seorang Muslim yang menjadi teman obrolannya tersebut mengubah jalan hidup dirinya. Bahkan, ketika kembali ke New Hampshire, Tammy merasa lebih ringan, dan hatinya pun berubah. Ia mulai menonton video tentang Islam, khususnya cerita-cerita bertobat.

"Saya menyadari bahwa saya salah tentang apa yang saya pikirkan tentang Islam dan Muslim," sesal Tammy.

Sebulan kemudian, setelah berbicara dengan teman barunya dan menjelaskan kepadanya bahwa ia sedang belajar tentang Islam. Kemudian dia mengundangnya untuk datang mengunjungi Mesir, tempat asalnya. Sempat ragu karena revolusi sedang berlangsung dan ketidakpastian di 'Timur Tengah', akhirnya dia setuju untuk pergi ke Mesir.

"Saya mendapatkan paspor saya dan saya pergi. Mesir tidak seperti yang pernah saya alami," ucap Tammy.

Pagi hari setelah Tammy tiba di Mesir dia, pertama kali mendengar adzan dan langsung menangis. Ia juga melihat orang-orang berdoa di jalan, di toko, bersama orang lain, di mana pun mereka berada, mereka berdoa dan dia kembali menangis.

"Mereka tidak malu tentang cinta mereka kepada Tuhan. Saya menginginkan itu, saya menginginkan itu dalam hidup saya," kata Tammy.

Rasa laparnya akan pengetahuan tentang Islam pun meningkat sepuluh kali lipat. Kemudian membaca dan melihat semua yang ia bisa. Tammy merasa dirinya membutuhkan struktur dalam hidupnya yang selama ia tidak pernah memilikinya. Kemudian Islam memberinya struktur itu dengan shalat lima waktu.

"Saya membutuhkan aturan. Aturan seperti tidak ada alkohol dan tidak ada hubungan dengan pria sebelum menikah," sambung Tammy.

Tammy menegaskan, alkohol adalah hal yang konstan dalam hidupnya dan tidak sekali pun memberikannya sesuatu yang baik. Serta menjalin hubungan dengan laki-laki sebelum menikah tidak pernah membuatnya bahagia, malah membuatnya kesepian dan merasa tidak cukup baik.

"Satu minggu setelah tiba di Mesir, saya mengucapkan syahadat. Saya harus menjadi seorang Muslim dua pelajaran penting," tegas Tammy.

Selanjutnya, Tammy menjelaskan, pelajaran yang paling didapat dari perenungannya dan jalan hijrahnya ke Islam adalah di tempat tergelap sekalipun Allah SWT tidak pernah meninggalkannya. Ia mengaku tidak akan pernah menyangka lima tahun yang lalu menjadi seperti saat ini.

"Berpeganglah pada harapan, berpeganglah pada Allah, karena sungguh Dia luar biasa, dan Dia akan menarik anda keluar darinya," terangnya.

Pelajaran lain yang Tammy pelajari dan sama pentingnya adalah memberi kebaikan, bahkan kepada orang yang jahat sekalipun. Karena kebaikan karena itu mengubah hati. Artinya.

Jika seseorang tidak mengulurkan tangan kepada dirinya pada masa kelam beberapa tahun lalu, dia tidak akan pernah berada di saat ini. Namun seseorang melakukan sesuatu yang baik untukny dan itu mengubah seluruh perspektifnya.

"Berikan kebaikan di mana pun Anda bisa. Saat Anda melihat seseorang mengalami hari yang berat, berikan kebaikan. Kebaikan yang Anda berikan bisa mengubah hidup seseorang," tutup Tammy.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA