Pendapat Ulama tentang Menghidupkan Malam Akhir Ramadhan

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

 Selasa 04 May 2021 18:58 WIB

Pendapat Ulama tentang Menghidupkan Malam Akhir Ramadhan. Foto: Ilustrasi Malam Lailatul Qadar Foto: Foto : MgRol_93 Pendapat Ulama tentang Menghidupkan Malam Akhir Ramadhan. Foto: Ilustrasi Malam Lailatul Qadar

Banyak orang menghidupkan malam akhir Ramadhan untuk lailatul qadar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita menghidupkan 10 terakhir Ramadhan. Hal tersebut demi mendapat kemulian malam Lailatul Qadar terutama di malam-malam ganjil.

Imam Al-‘Iroqi (806 H) dalam kitabnya “Thorhu Ats-Tsasrib” (4/161) bahwa yang dimaksud menghidupkan malam guna meraih keutamaan malam Lailatul Qodar itu bukanlah menghidupkan sepanjang malam tanpa istirahat.

Beliau mengatakan:

“Yang dimaksud menghidupkan malam lailatul-qadar bukanlah menghidupkan malam penuh tanpa istirahat. Akan tetapi cukup sebagian kecil malam saja, seperti orang yang bangun untuk sholat tahajud dan sebelumnya telah tidur. Atau juga dengan hanya sholat tarawih bersama Jemaah, atau juga sholat isya dan subuh secara bejamaah,, seperti yang telah dijelaskan dalam hadits ustman bin Affan tersebut.”

Sheikh Shofiyurrahman Al-Mubarokafuri (1414 H), Ulama India penulis Siroh Nabawiyah fenomenal “Al-Rohiq Al-Makhtum” ini juga ikut berkomentar.

Dalam kitabnya “Mir’atul Mafatih syarhu Misykat al-Mashabih” (6/405) beliau mengatakan: "Memang ulama tidak satu suara dalam masalah ini, tetapi secara zohirnya orang yang hanya sholat Isya’ berjemaah telah disebut sebagai orang yang menghidupkan malam."

Berarti ia juga mendapat keutamaan lailatul Qodr karena telah menghidupkan malamnya. Tetapi juga dikatakan oleh Imam Al-Kirmani bahwasanyaseseorang
tidak disebut sebagai menghidupi malam jika tidak bangun sepanjang malam atau sebagian besar malam.
 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X