Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Australia Percepat Vaksinasi Warga di Atas 50 Tahun

Selasa 20 Apr 2021 16:37 WIB

Red: Teguh Firmansyah

 Perdana Menteri Australia Scott Morrison.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison.

Foto: EPA-EFE/LUKAS COCH
Sejauh ini 1,59 juta suntikan telah diberikan dari 25 juta populasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Australia berencana untuk mempercepat distribusi vaksin Covid-19 bagi masyarakat yang berusia 50 tahun ke atas. Otoritas Australia juga menyarankan mereka yang berusia 50 tahun ke bawah tidak divaksinasi dengan suntikan AstraZeneca karena adanya kekhawatiran terkait pembekuan darah.  Demikian disampaikan Perdana Menteri Scott Morrison pada Senin.

"Pada pertemuan kabinet nasional, para pemimpin negara sepakat untuk mempercepat vaksinasi bagi mereka yang berusia atas 50 tahun, melampaui pekerja garis depan, orang tua, orang cacat dan orang-orang dengan kondisi medis bawaan, dengan persetujuan resmi," kata Morrison dalam sebuah pernyataan.

Mereka juga setuju untuk membangun tempat inokulasi massal seiring dengan meningkatnya pasokan vaksin. Peluncuran vaksin Australia terhenti karena tertahannya pasokan di Eropa dan kekhawatiran tentang pembekuan darah yang terkait dengan vaksin AstraZeneca.

Baca Juga

Sejauh ini 1,59 juta suntikan telah diberikan kepada populasi sebanyak 25 juta. Negara ini telah meningkatkan pesanan suntikan vaksin Moderna dan Pfizer untuk orang-orang yang lebih muda, tetapi vaksin tersebut baru akan tiba pada kuartal keempat.

Morrison menentang seruan agar mendesaknya untuk mengurangi pembatasan perjalanan."Saat ini di Australia, kami hidup dengan cara yang tidak dilakukan oleh negara lain. Vaksinasi akan menjadi mekanisme penting untuk memastikan hal itu tetap terjadi," kata Morrison kepada wartawan menjelang pertemuan kabinet nasional.

 

sumber : Reuters/antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA