Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sakit Parah di China, PMI Asal Indramayu Ini tak Bisa Pulang

Senin 19 Apr 2021 00:07 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) berbaris untuk menjalani pendataan di Tanah Air. (Ilustrasi)

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) berbaris untuk menjalani pendataan di Tanah Air. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Jessica Helena Wuysang
Nyawa PMI asal Desa Sukadana, Indramayu, Sunenti, sempat nyaris tidak terselamatkan. 

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Kisah miris kembali dialami pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Indramayu. Kali ini, hal itu dialami Sunenti, PMI asal Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, yang sakit parah di Shanghai, China dan tak bisa pulang akibat terkendala biaya.

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Indramayu, Juwarih, menjelaskan, Sunenti menderita asma akut dan infeksi lambung. Sudah hampir satu bulan terakhir, PMI itu dirawat di ruang ICU Pudong Hopital Shanghai.

"Sunenti sebenarnya sudah mau pulang karena sakit-sakitan, majikannya juga kan tidak mau ambil risiko. Tapi pas mau pulang, saat mau ke kantor imigrasi, Sunenti langsung koma tak sadarkan diri," kata Juwarih, Ahad (18/4).

Sementara itu, kondisi yang diderita Sunenti sebelumnya juga dikabarkan oleh rekannya sesama PMI, Ny Bogosipho melalui akun Facebook pribadinya. Dia mengabarkan, bahwa nyawa Sunenti sempat nyaris tidak terselamatkan. Beruntung saat itu dokter di rumah sakit melakukan usaha maksimal.

Juwarih mengungkapkan, setelah mendapat perawatan di rumah sakit, kondisi Sunenti kini mulai membaik. Namun, Sunenti tak bisa pulang ke Indonesia dan tertahan di rumah sakit karena terkendala biaya pengobatan.

Untuk membayar pengobatan Sunenti, lanjut Juwarih, pihak keluarganya di kampung halaman sampai harus menggadaikan rumah. Namun, uang tersebut masih tetap kurang.

"Keluarga Sunenti di kampung sudah mengirimkan uang hampir Rp 67 juta. Tapi tetap masih kurang Rp 57 juta lagi," tutur Juwarih.

Juwarih menyebutkan, Sunenti sudah bekerja di sana sekitar dua tahun. Selama bekerja, penyakitnya kerap kambuh.

Juwarih mengakui, Sunenti berangkat bekerja ke Shanghai, China secara unprosedural. Meski demikian, dia berharap, agar pemerintah baik di Indonesia maupun KJRI Shanghai Cina bisa membantu Sunenti. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA