Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Rusia Balas Usir 10 Diplomat AS

Sabtu 17 Apr 2021 04:58 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

 Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Rusia Vladimir Putin.

Foto: AP/Alexei Druzhinin/Pool Sputnik Kremlin
Moskow juga akan melarang NGO AS beroperasi di Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia menanggapi rentetan sanksi baru Amerika Serikat (AS), Jumat (16/4) waktu setempat. Pemerintah Rusia akan mengusir 10 diplomat AS dan mengambil tindakan pembalasan lain dalam pertikaian yang menegangkan dengan Washington.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Jumat mengatakan, Moskow akan menambahkan delapan pejabat pemerintah AS ke daftar sanksinya. Rusia juga akan membatasi dan menghentikan kegiatan organisasi nonpemerintah AS dari campur tangan politik Rusia.

"Kami akan menanggapi tindakan ini dengan cara tit-for-tat. Kami akan meminta 10 diplomat AS di Rusia untuk meninggalkan negara kami," kata Lavrov kepada wartawan seperti dilansir laman Aljazirah, Sabtu.

Dia mengatakan Kremlin menyarankan agar duta besar AS John Sullivan mengikuti contoh mitranya dari Rusia dan pulang untuk berkonsultasi. Rusia juga akan menolak kedutaan AS kemungkinan mempekerjakan personel dari Rusia dan negara ketiga sebagai staf pendukung.

Koresponden Aljazirah di Rusia, Bernard Smith menilai, hal itu karena Rusia mengatakan dalam misi mereka di AS mereka hanya mempekerjakan orang Rusia. "Untuk AS, itu dapat mempengaruhi semua orang mulai dari pengemudi dan pembersih hingga analis dan individu lain yang mungkin bekerja dalam misi diplomatik AS di Rusia. Sehingga berpotensi membuat hidup sulit bagi orang Amerika di sini," kata dia.

Smith juga mengatakan bahwa Lavrov mengancam akan melangkah sedikit lebih jauh jika AS meningkatkan sanksi sendiri. Rusia meminta AS untuk mencopot 150 personel Rusia yang bekerja di PBB.

Delapan pejabat tinggi  AS juga dilarang masuk Rusia, termasuk Direktur FBI Christopher Wray, Direktur Intelijen Nasional Avril Haines, Jaksa Agung AS Merrick Garland, dan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas. Orang lain yang menghadapi larangan masuk adalah Direktur Biro Penjara Federal Michael Carvajal, Direktur Dewan Kebijakan Domestik Susan Rice, John Bolton, mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, dan mantan kepala CIA Robert James Woolsey.

"Sekarang adalah waktunya bagi Amerika Serikat untuk menunjukkan akal sehat dan mundur dari jalur konfrontasi," kata kementerian luar negeri Rusia dalam sebuah pernyataan. "Jika tidak, serangkaian keputusan menyakitkan bagi pihak Amerika akan diterapkan," ujar pernyataan tersebut menambahkan.

AS memberlakukan berbagai sanksi terhadap Rusia, Kamis (5/4). Sanksi tersebut sebagai balasan atas sikap Rusia yang mencampuri pemilu AS tahun lalu, melakukan peretasan dunia maya, penindasan di Ukraina, dan dugaan tindakan memfitnah lainnya.

Pemerintah AS memasukkan perusahaan Rusia ke dalam daftar hitam, mengusir diplomat Rusia, dan melarang bank-bank AS membeli obligasi negara dari bank sentral Rusia, sovereign wealth fund, dan Kementerian Keuangan. Washington memperingatkan Moskow bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak hukuman.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA