Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Reshuffle Kabinet dan Menteri yang Berpotensi Diganti

Rabu 14 Apr 2021 05:36 WIB

Red: Indira Rezkisari

Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wapres Maruf Amin disebut akan kembali melakukan perombakan atau reshuffle kabinet.

Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wapres Maruf Amin disebut akan kembali melakukan perombakan atau reshuffle kabinet.

Foto: Wahyu Putro/ANTARA FOTO
Moeldoko disebut sebagai salah satu menteri yang mungkin kena reshuffle kabinet.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Febrianto Adi Saputro, Rizkyan Adiyudha, Sapto Andika Candra, Dessy Suciati Saputri

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin sudah mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melakukan perombakan atau reshuffle kabinet. Ia meyakini reshuffle kabinet akan dilakukan pekan ini juga.

Sejumlah nama pun disebut-sebut akan diganti. Yang pertama disebut akan diganti adalah Menteri Sekretaris Negara, Pratikno. Ketua organisasi relawan pendukung Jokowi, Jokowi Mania (JoMan), Immanuel Ebenezer, menilai Pratikno pantas diganti. Immanuel mengatakan, sosok Yusril Ihza Mahendra dinilai cocok menggantikan Pratikno.

"Dari pengalaman-pengalaman yang ada, yang menguasai ketatanegaraan dan berkenaan dengan negara, saya rasa Pak Yusril layak untuk menggantikan Pak Pratikno," kata Immanuel dalam diskusi daring, Selasa (13/4).

Selain Yusril, Immanuel juga menilai mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie cocok menggantikan Pratikno. Menurutnya, baik Yusril maupun Jimly dianggap sosok yang mumpuni mengisi posisi  mensesneg.

"Itu kan mereka orang-orang yang secara keilmuan atau secara apa gitu mereka mumpuni gitu dua orang itu," ujarnya.

Immanuel setidaknya menilai ada lima menteri yang dianggap layak diganti. "Lima menteri ini juga harus menjadi perhatian khusus Bapak Presiden karena bahaya. Apalagi, Pratikno. Menurut kita, Pratikno ini menteri yang selalu menjerumuskan Presiden dalam jurang politik yang menurut saya bahaya sekali," ucap Immanuel.

Baca juga : Hidup Singkat, Jangan Sia-Siakan Waktu

Sementara itu, empat menteri lain yang dinilai layak di-reshuffle, yaitu Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil.

"Jadi, ya menurut saya Presiden harus peka, kalau tidak peka, ini bahaya," katanya.

Sementara itu, pengamat politik Ray Rangkuti memprediksi menteri-menteri yang akan diganti kali ini kemungkinan adalah pembantu presiden yang telah bekerja lebih dari setahun. Menurutnya, kinerja seorang menteri baru bisa diukur minimal dalam kurun waktu setahun.

"Ini artinya untuk menteri-menteri anyar yang diangkat pada Desember 2020 lalu posisinya aman dari reshuffle," kata Ray Rangkuti dalam keterangan, Selasa (13/4).

Dia mengatakan, pada Desember 2020, Presiden Jokowi melantik enam menteri baru yakni, Tri Rismaharini sebaga mensos, Sandiaga Uno sebagai menteri pariwisata dan ekonomi kreatif, Sakti Wahyu Trenggono (Menteri Kelautan dan Perikanan), Yaqut Cholil Qomas (Menag), Budi Gunadi Sadikin (Menkes), dan M Lutfi (Mendag)

Ray menilai, enam orang menteri baru itu berpeluang besar dipertahankan oleh Jokowi karena masa jabatan mereka masih seumur jagung. Dia mengatakan, kalau dari aspek waktu, setidaknya menunggu satu tahun lagi untuk mengukur kinerja.

Dia mengatakan, Jokowi bukanlah tipikal pemimpin yang mengukur kinerja dalam waktu singkat. Menurutnya, dari aspek waktu itu terlalu cepat karena belum sampai 3-4 bulan.

Menteri-menteri yang baru dilantik pada Desember 2020 itu juga telah menunjukkan gebrakan-gebrakan. Ray mencontohkan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Dia menilai, Trenggono telah berani melakukan gebrakan dengan melarang ekspor benih bening lobster, komoditas yang merupakan kekayaan alam Indonesia.

Baca Juga

Baca juga : Vaksinasi Covid-19 Saat Berpuasa, akan Pengaruhi Imunitas?

“Beliau sudah buat keputusan yang sekarang menarik kembali kebijakan ekspor benur. Itu cukup disambut khalayak," katanya.
 
Dia mengatakan, Trenggono pada Februari 2021 sempat mengungkap alasan rencana pelarangan ekspor benih bening lobster (BBL). Trenggono menilai benur merupakan kekayaan alam Indonesia. Selain itu, nilai tambah dari benur yang akan lebih menguntungkan bila diekspor bukan dalam bentuk benih, tetapi ketika sudah berukuran besar dan siap konsumsi.

Tak hanya itu, Trenggono melalui program terobosannya dinilai mampu mewujudkan mimpi Jokowi menjadikan laut sebagai salah satu sumber ekonomi Indonesia pada masa depan.

Hal itu terlihat dari keberanian Trenggono memasang target Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Perikanan tangkap sebesar Rp 12 triliun pada 2024, menggenjot perikanan budi daya, hingga memperhatikan kesejahteraan nelayan melalui jaminan hari tua.

Selain Trenggono, Menkes Budi Gunadi Sadikin juga dianggap telah melakukan gebrakan dengan menekan angka penularan Covid-19 dan vaksinasi. Ray juga mencatat menteri tersebut tergolong sosok menteri yang tidak bermasalah.

Dia tidak menemukan suatu peristiwa yang memungkinkan menteri-menteri yang baru dilantik pada Desember 2020 itu digeser. "Yang memungkinkan untuk di-reshuffle itu kinerja. Tapi, kalau kinerja gimana mengukurnya baru beberapa bulan," katanya.

Ray juga melihat Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko jadi salah satu menteri yang layak diganti. "Kalau dengan etik, saya kira Pak Moeldoko layak untuk dipertimbangkan apakah beliau masih tetap mau bergabung sebagai kepala KSP, atau sebaliknya mulai memikirkan aktivitas politiknya lebih luas dari sekadar ketua KSP di kabinetnya Pak Jokowi," kata Ray.

Selain Moeldoko, Ray melihat Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga dinilai layak di-reshuffle. Secara pertimbangan politik, tokoh-tokoh yang berpotensi bertarung pada 2024 lebih baik mengundurkan diri.

"Di luar alasannnya secara politik, saya kira juga pertama ya ribut soal omnibus law, ribut soal impor beras, tidak bisa dilepaskan dari nama beliau," ujarnya.

Jika harus mengganti menteri baru, Mendag Muhammad  Lutfi juga dianggap berpeluang untuk di-reshuffle. Kebijakan impor beras dinilai berimbas pada harga padi dan beras.

Baca juga : Penyekatan di Jalan Tikus untuk Bidik Pemudik Roda Dua

"Meskipun kebijakan itu dibatalkan, tapi implikasi psikologisnya sudah sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu, saya kira pertimbangan Muhammad Lutfi untuk di-reshuffle sangat rasional," tuturnya.

photo
Tiga Klaster Reshuffle Kabinet Indonesia Maju - (Infografis Republika.co.id)







BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA