Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Ingat Pak Harto dan Beduk Masjid Kampung Kala Ramadhan Tiba

Selasa 13 Apr 2021 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Masjid Pathok Nagari, Ploso Kuning, Yogyakarta. Beginilah bentuk  masjid yang bertebaran di perkampungan Jawa pada masa lalu. Sekarang arsitektur masjid model begini semakin jarang ditemukan.

Masjid Pathok Nagari, Ploso Kuning, Yogyakarta. Beginilah bentuk masjid yang bertebaran di perkampungan Jawa pada masa lalu. Sekarang arsitektur masjid model begini semakin jarang ditemukan.

Foto: Republika.co.id/muhammad Subarkah
Kenangan setiap Ramadhan tiba.

IHRAM.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Setiap memasuki bulan Ramadhan, ingatan saya terbang ke kampung halaman. Dan, ini terasa semakin mengiris kala memasuki waktu Ashar.

Apa pasal? Ya, kala itu biasanya usai sholat Ashar, saya langsung lari ke beranda masjid untuk memukul beduk sekeras mungkin sebagai pertanda datangnya Ramadhan.

Memang, saya ingat jelas nasihat dari guru ngaji saya bahwa hari baru yang berdasarkan hitungan putaran bulan dimulai pada waktu Ashar. Karenanya, sembari harap-harap cemas menunggu siaran sidang itsbat, saya tetap lancang memukul beduk sekeras mungkin.

Saya paham kalaupun waktu puasanya mundur, setidaknya saya tak dimarahi dan bisa berkelit bahwa penyebab mundurnya puasa memang bukan karena pukul beduk, melainkan dari pernyataan orang yang bersumpah melihat bulan baru Ramadhan terbit di atas ufuk.

Masjid dan beduk sangat berarti bagi saya setiap kali datang Ramadhan. Apalagi, zaman itu pada zaman kekuasaan Pak Harto. Ada kenangan khusus yang terus melambai-lambai dalam ingatan ketika datang bulan puasa.

''Di masjid sudah terdengar beduk dipukul belum?" begitu tanya saya kepada keluarga yang di kampung kala Ramadhan tiba. Kalau dia jawab sudah, saya senang sekaligus terharu. Saya bayangkan suara beduk itu ditabuh bertalu-talu dengan ritmis. Dug ... dug ... dug ...

Nah, pada masa kini kenangan itu semakin menyengat ketika baca soal masjid zaman Pak Harto dalam bukunya Wali Brandal Tanah Jawa karya sejarawan Australia George Quinn. Dan, saya makin terkejut ketika dia bercerita soal arti masjid bagi pemerintahan Orde Baru yang dikenal otoriter itu.

Baca juga : Nutrisi Tepat Jadi Kunci Agar Puasa Ramadhan Tetap Lancar

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA