Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Saat IMF Dua Kali Turunkan Proyeksi Ekonomi Indonesia

Sabtu 10 Apr 2021 07:43 WIB

Red: Elba Damhuri

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/4/2021). IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen dari 4,8 persen pada 2021.

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/4/2021). IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen dari 4,8 persen pada 2021.

Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA
IMF sudah dua kali merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021

REPUBLIKA.CO.ID. --- Oleh Novita Intan

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen pada tahun ini. Angka proyeksi kembali turun dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.

Sebelumnya, pada Januari 2021, IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8 persen. Semula, melalui laporan World Economic Outlook (WEO) pada Oktober, IMF masih memperhitungkan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di level 6,1 persen.

Revisi ke bawah itu dikarenakan ketidakpastian seputar prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibandingkan biasanya, terutama terkait vaksinasi. Apabila vaksinasi dilakukan lebih awal secara meluas akan membantu mendorong ekonomi. 

IMF mencatat jika vaksinasi ada penundaan dapat menyebabkan pandemi lebih berlarut sehingga menjadi risiko yang memperlambat ekonomi,

Kepala Ekonom dan Direktur Departemen Riset IMF, Gita Gopinath, mengatakan memang mobilitas masyarakat yang sempat tertahan berangsur mulai meningkat. Namun, peningkatan ini masih dibarengi adanya kebijakan pengetatan di banyak wilayah.

Proyeksi ekonomi Indonesia pada tahun ini juga lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN-5, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Adapun lembaga moneter global tersebut memprediksi kawasan ini bisa tumbuh 4,9 persen.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ini terjadi di Filipina, yang diprediksi bisa tumbuh 6,9 persen pada 2021. Peringkat kedua,  Vietnam dan Malaysia yang sama-sama diprediksi bisa tumbuh 6,5 persen. Proyeksi pertumbuhan ekonomi terendah terjadi pada Thailand yang hanya tumbuh 2,6 persen.

Revisi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga justru berbanding terbalik dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, yang diperkirakan tumbuh enam persen, naik dari proyeksi Januari 2021 sebesar 5,5 persen.

IMF menegaskan peningkatan proyeksi pertumbuhan global pada tahun ini dan tahun depan digerakkan oleh negara maju, terutama Amerika Serikat yang diproyeksi tumbuh 6,4 persen tahun ini, sejalan dengan tambahan stimulus fiskal yang digelontorkan. 

Selain AS, negara diproyeksi tumbuh kencang adalah China, yang diperkirakan tumbuh 8,4 persen pada tahun ini. Ekonomi China juga dinilai akan pulih lebih cepat seperti sebelum terjadinya pandemi.

"Di tengah ketidakpastian akibat pandemi, jalan keluar dari krisis ekonomi dan kesehatan ini semakin terlihat. Berkat para ilmuwan, ratusan juta orang sedang divaksinasi dan ini akan memberikan energi bagi pemulihan ekonomi di banyak negara tahun ini," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (8/4).

IMF pun merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,8 persen pada 2022. Padahal, sebelumnya perekonomian domestik diproyeksi dapat melesat hingga enam persen pada tahun depan.

Respons Menkeu Sri Mulyani

Menyikapi prediksi ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan proyeksi yang ditetapkan IMF merupakan bagian dari proyeksi-proyeksi yang mengacu pada ketidakmenentuan, sehingga asumsi yang digunakan kompleks.

Vaksinasi menjadi penentu proyeksi kinerja ekonomi....

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA