Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Vaksin AstraZeneca dari Korsel Tiba di Iran

Rabu 07 Apr 2021 03:47 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Gita Amanda

 Sekitar 700 ribu dosis vaksin untuk mencegah infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) dari AstraZeneca yang diproduksi di Korea Selatan (Korsel) telah tiba di Iran pada Selasa (6/4).

Sekitar 700 ribu dosis vaksin untuk mencegah infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) dari AstraZeneca yang diproduksi di Korea Selatan (Korsel) telah tiba di Iran pada Selasa (6/4).

Foto: AP/Matthias Schrader
Iran telah melakukan vaksinasi terhadap 250 ribu dari 80 juta total penduduk

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Sekitar 700 ribu dosis vaksin untuk mencegah infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) dari AstraZeneca yang diproduksi di Korea Selatan (Korsel) telah tiba di Iran pada Selasa (6/4).

Kantor berita Pemerintah Iran IRNA melaporkan bahwa vaksin Covid-19 dari AstraZeneca yang diproduksi SK Bioscience telah dibawa melalui Belanda. Sejauh ini, Iran telah melakukan vaksinasi terhadap 250 ribu dari 80 juta total penduduk di negara Timur Tengah itu.

Baca Juga

Sebelumnya Iran memberikan vaksinasi Covid-19 dengan produk vaksin buatan Rusia dan China. Setidaknya 56 ribu orang telah menerima dua dosis atau dosis lengkap vaksin.

Otoritas keseharan Iran memberi persetujuan penggunaan darurat vaksin Covid-19 AstraZeneca yang diproduksi di Korsel pada 18 Februari lalu. Negara itu hingga saat ini telah mengkonfirmasi 1.945.964 kasus infeksi virus corona jenis baru, dengan total kematian terkait penyakit wabah ini mencapai 63.332 orang.

Banyak negara melakukan upaya vaksinasi Covid-19 secara luas yang bertujuan mengendalikan pandemi dan diharapkan membuat kehidupan kembali normal. Tak sedikit yang juga berlomba meluncurkan vaksin, termasuk Iran yang juga mencoba mengembangkan produk vaksin untuk mencegah infeksi virus corona jenis baru bernama COVIran Barakat.

Baca juga : Akses Adil Vaksin Covid-19 dalam Tanda Tanya

Saat ini COVIran masih dalam tahap uji klinis kedua dan menerima ilsensi yang diperlukan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Iran (Food and Drug Administration of Iran National Committee for Ethics) dalam penelitian biomedis. Uji coba tahap pertama telah dilakukan pada awal Januari.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA