Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Konsumsi Rumah Tangga Jepang Masih Lemah Karena Pandemi

Selasa 06 Apr 2021 10:47 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Seorang pria bersepeda melewati papan iklan Olimpiade Tokyo di luar Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo di Tokyo, Jepang, 27 Januari 2021. Konsumsi rumah tangga Jepang pada bulan Februari masih belum menunjukkan pemulihan.

Seorang pria bersepeda melewati papan iklan Olimpiade Tokyo di luar Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo di Tokyo, Jepang, 27 Januari 2021. Konsumsi rumah tangga Jepang pada bulan Februari masih belum menunjukkan pemulihan.

Foto: EPA-EFE/FRANCK ROBICHON
Jepang diprediksi masih akan mengalami kontraksi ekonomi pada kuartal pertama.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Konsumsi rumah tangga Jepang pada bulan Februari masih belum menunjukkan pemulihan. Kebijakan lockdown untuk mencegah Covid-19 telah menekan konsumsi rumah tangga Jepang selama tiga bulan berturut-turut, dilansir Reuters, Selasa (6/4). 

Data memperlihatkan upah riil yang disesuaikan dengan inflasi negara itu naik untuk pertama kalinya dalam setahun di bulan Februari. Sebagian besar disebabkan oleh harga yang melemah karena pandemi terus membebani perekonomian.

Analis memperkirakan Jepang masih akan mengalami kontraksi ekonomi pada kuartal pertama. Tokyo dan beberapa daerah lain menerapkan pembatasan darurat untuk menahan lonjakan baru Covid-19. Hal ini pun menekan bisnis terutama sektor jasa seperti restoran dan hotel.

Pengeluaran rumah tangga turun 6,6 persen pada Februari dari tahun sebelumnya. Di bulan Januari, konsumsi rumah tangga juga turun 6,1 persen. Penurunan ini jauh lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebesar 5,3 persen. 

Jepang telah mengeluarkan stimulus moneter dan fiskal besar-besaran selama setahun terakhir untuk menghidupkan kembali ekonomi. Pandemi Covid-19 telah membuat negara tersebut ke rekor kemerosotan pascaperang awal tahun 2020.

Baca juga : Mutasi di Polri, Komjen Petrus Golose tak Lagi di BNN

Di luar kuartal pertama, analis memperkirakan Jepang akan mengalami pemulihan bertahap karena permintaan global yang solid mengangkat sektor ekspor besar-besaran Jepang. Ini membantu mengimbangi beberapa kelemahan dalam konsumsi.

Banyak analis yang mempertanyakan apakah akan ada lebih banyak stimulus untuk mendukung pemulihan ekonomi. Eksekutif partai yang berkuasa di Jepang mengisyaratkan peluang anggaran tambahan pada tahun ini untuk memulihkan ekonomi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA