Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Pandemi Belum Usai, Ini Cara Isolasi Mandiri yang Benar

Ahad 04 Apr 2021 17:27 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Ratna Puspita

[Ilustrasi Klaster keluarga Covid-19] Isolasi mandiri dilakukan terhadap pasien Covid-19 dan kontak erat yang tidak menunjukkan gejala yang 'bermakna'.

[Ilustrasi Klaster keluarga Covid-19] Isolasi mandiri dilakukan terhadap pasien Covid-19 dan kontak erat yang tidak menunjukkan gejala yang 'bermakna'.

Foto: Republika
Isolasi mandiri dilakukan ketika tidak menunjukkan gejala yang 'bermakna'.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satgas Penanganan Covid-19 kembali mengingatkan masyarakat mengenai tata cara isolasi mandiri yang benar bagi warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan kontak erat. Pada prinsipnya, isolasi mandiri dilakukan terhadap pasien Covid-19 dan kontak erat yang tidak menunjukkan gejala yang 'bermakna'. 

"Jadi isolasi itu bisa dilakukan di tingkat RT/RW sepanjang dia belum ada gejala yang bermakna,” Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Brigjen TNI (purn) dr Alexander K Ginting dalam dialog bersama Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro, Sabtu (3/4) sore. 

Baca Juga

Belum ada gejala bermakna, yakni tidak demam tinggi, tidak sesak napas, saturasinya masih di atas 90, tidak sakit perut atau diare hebat. “Artinya masih bisa melakukan aktivitas normal. Tapi dia positif, atau sudah bergejala tapi belum diperiksakan," ujar Alex 

Itu pun, Alex menambahkan, isolasi mandiri tidak lantas membebaskan si pasien dari kewajiban menjalankan protokol kesehatan. Selama melakukan isolasi mandiri, pasien tetap harus melakukan 3M, yakni mencuci tangan, memakai masker, dan menghindari kerumunan. 

"Hindari supaya tidak berkumpul dengan sesama orang di sekitar rumah, juga harus tetap memakai masker. Pada isolasi mandiri, ada proses pengamatan dari puskesmas sehingga mereka yang isolasi mandiri harus lapor ke puskesmas, dan puskesmas akan menindaklanjuti," katanya. 

Pasien isolasi mandiri, ujar Alex, juga punya kewajiban mengamati keluhan atau gejala yang dialami pada diri sendiri. Misalnya, apabila ada gejala demam, sesak, batuk, atau diare. 

"Kalau ada dia harus lapor. Dan kalau terjadi perburukan dia harus segera dibawa ke RS. Ini yang sering jadi masalah adalah kapan dia dibawa ke RS kapan dia melakukan isolasi mandiri. Jadi kita anjurkan isolasi mandiri, tapi jangan menunda. Kalau memang sudah saatnya harus dievakuasi ke RS, harus di RS," katanya. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA