Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Pengungsi Perang Butuh Uang Bukan Vaksin?

Ahad 04 Apr 2021 14:33 WIB

Rep: Rizky Suryarandika./ Red: Muhammad Hafil

Pengungsi Perang Butuh Uang bukan Vaksin?. Foto: Alat suntik vaksin AstraZeneca COVID-19 (ilustrasi).

Pengungsi Perang Butuh Uang bukan Vaksin?. Foto: Alat suntik vaksin AstraZeneca COVID-19 (ilustrasi).

Foto: AP/Alberto Pezzali
Sejumlah pengungsi menginginkan uang bukan vaksin.

REPUBLIKA.CO.ID, KARACHI -- Pengungsi asal Afghanistan yang tinggal di provinsi selatan Pakistan mengatakan, mereka menginginkan uang, bukan vaksin dari pemerintah untuk melindungi dari penyakit virus corona (Covid-19) karena kamp mereka tidak terkena virus.

Perwakilan pengungsi Afghanistan mengatakan, mereka tidak memiliki informasi mengenai program imunisasi. Beberapa mengeklaim penyakit itu tidak membunuh siapa pun di kamp mereka, meningkatkan kekhawatiran tentang kurangnya kesadaran akan virus di antara populasi pengungsi.

Setidaknya, 1,4 juta pengungsi Afghanistan tinggal di 54 kamp di seluruh Pakistan, sebagian besar di barat laut Khyber Pakhtunkhwa dan provinsi Balochistan barat daya, yang keduanya berbatasan dengan Afghanistan. Permukiman pengungsi juga terletak di pusat kota besar seperti Karachi dan Islamabad.

"Tidak ada yang menghubungi kami untuk vaksinasi," kata Zahir Pashtun selaku aktivis pemuda di kamp pengungsi Saranan Baru di provinsi Balochistan barat daya, kepada Arab News pada Ahad (4/4).

Pashtun mengatakan, virus itu tidak menewaskan siapa pun di kamp pengungsiannya. Tetapi telah sangat merusak kondisi keuangan sebagian besar pekerja berupah harian di komunitasnya, karena virus itu telah mendatangkan malapetaka pada ekonomi sejak Maret lalu.

"Saya tidak berpikir bahwa bahkan satu persen (pengungsi) akan mendapatkan suntikan vaksin. Beberapa bahkan yakin mereka akan mati jika mereka diimunisasi," ujar Pashtun.

Bulan lalu, Pusat Komando dan Operasi Nasional, badan untuk tanggapan virus korona Pakistan, mengatakan vaksinasi orang asing yang tinggal di negara itu telah disetujui. Kementerian Kesehatan mengatakan prosesnya akan dimulai pada minggu pertama April.

Meski ini belum dimulai, lebih dari 14 ribu orang telah meninggal karena COVID-19 di Pakistan sejak Maret 2020. Ada 4.500 kematian di provinsi Sindh dan sedikit lebih dari 200 kematian di Balochistan.

Qaiser Afridi, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, mengatakan, hal itu akan meningkatkan kesadaran begitu sistem diterapkan untuk mendaftarkan nomor. Ia telah membentuk kelompok kerja teknis bagi pengungsi untuk menangani masalah tersebut.

"Pengungsi akan dimasukkan ke dalam sistem yang diperuntukkan bagi penduduk Pakistan. Tidak ada sistem terpisah untuk mereka," kata Afridi.

Afridi menjelaskan pengungsi Afghanistan akan mendaftar secara online seperti semua warga negara Pakistan dengan menggunakan kartu Bukti Pendaftaran mereka dan kemudian akan diundang ke Pusat Vaksinasi Dewasa terdekat di fasilitas kesehatan pemerintah.

"Tidak ada vaksinasi di desa pengungsi," ujar Afridi.

Sementara itu, seorang pengungsi Afghanistan di provinsi Sindh selatan, Mullah Abdul Rahman tak mau ambil pusing atas pandemi Covid-19. Ia saja sudah kesulitan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya."Kami belum melihat siapa pun yang meninggal karena Covid-19," ucap Rahman.

Rahman mengatakan selalu menyimpan masker, tetapi hanya menggunakannya setelah menyeberangi jembatan Sohrab Goth menuju Karachi. Dia mengatakan pemukiman pengungsi selama ini adalah wilayah bebas masker.

"Karena kami tidak melihat pasien virus corona, orang berpikir itu tidak sepenting vaksin polio," sebut Rahman.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA