Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

25 Persen Pegawai Arab Saudi Bisa Bekerja Selama Ramadhan

Selasa 30 Mar 2021 07:10 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Muhammad Hafil

25 Persen Pegawai Arab Saudi Bisa Bekerja Selama Ramadhan. Foto ilustrasi: Di Hijaz, Arab Saudi, Ramadhan menjadi momentum untuk meneruskan adat istiadat yang unik dan signifikan.

25 Persen Pegawai Arab Saudi Bisa Bekerja Selama Ramadhan. Foto ilustrasi: Di Hijaz, Arab Saudi, Ramadhan menjadi momentum untuk meneruskan adat istiadat yang unik dan signifikan.

Foto: Arabnews.com
Selama Ramadhan 25 persen pegawai Arab Saudi boleh bekerja

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH – Menteri Sumber Daya Manusia dan Pembangunan Sosial Arab Saudi, Ahmed al-Rajhi mengumumkan peraturan terkait pekerjaan staf pemerintah selama bulan suci Ramadhan. Menurut aturan, jumlah karyawan yang bekerja jarak jauh tidak boleh melebihi 25 persen dari total staf. Selain itu, harus ada jam kerja yag fleksibel.

Dilansir Saudi Gazette, Selasa (30/3), karyawan akan dibagi menjadi tiga kelompok dan ada jeda satu jam di setiap kelompok untuk menghadiri pekerjaan. Penerapan sidik jari sebagai cara absensi akan tetap ditangguhkan. Jam kerja resmi selama bulan Ramadhan adalah lima jam sehari, mulai pukul 10.00 sampai pukul 15.00.

Baca Juga

Dalam surat edarannya, al-Rajhi menginstruksikan semua tindakan prosedur kesehatan harus dipatuhi di tempat kerja, selain penerapan jam kerja yang fleksibel guna mencegah virus Covid-19. Mereka yang paling rentan terkena virus korona, mendapat prioritas saat memilih bekerja dari jarak jauh. Proses tersebut juga harus dilaksanakan sesuai dengan Klasifikasi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Saudi (Weqaya).

Dikutip Arab News, Kementerian Kesehatan Saudi melaporkan 541 kasus baru Covid-19 sehingga total kasus menjadi 388.866 orang. Dari total kasus tersebut, 4.906 kasus aktif dan 674 orang dalam kondisi kritis.

Pihak kementerian mengatakan kasus tertinggi tercatat di ibu kota Riyadh dengan 217 kasus diikuti oleh Provinsi Timur 108 kasus, Makkah 86 kasus, Qassim 25 kasus, dan Hail 22 kasus. Sementara itu, enam pasien dikabarkan meninggal yang menambah jumlah angka kematian menjadi 6.656 orang. Namun, pasien yang telah pulih bertambah yakni 357 pasien sehingga jumlah pemulihan di Saudi menjadi 377.304. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA