Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

4 Lembaga Top Dunia Beberkan Kondisi Ekonomi Indonesia

Sabtu 27 Mar 2021 00:14 WIB

Red: Elba Damhuri

Suasana deretan gedung bertingkat di antara permukiman di Jakarta, Jumat (12/3/2021). Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9 persen yoy, ekspektasi untuk pertumbuhan yang lebih tinggi terlihat di pasar keuangan dan pasar komoditas, terutama dengan harga minyak yang meroket di tengah pandemi

Suasana deretan gedung bertingkat di antara permukiman di Jakarta, Jumat (12/3/2021). Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9 persen yoy, ekspektasi untuk pertumbuhan yang lebih tinggi terlihat di pasar keuangan dan pasar komoditas, terutama dengan harga minyak yang meroket di tengah pandemi

Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Empat lembaga ekonomi dunia beberkan kondisi perekonomian Indonesia, seperti apa?

REPUBLIKA.CO.ID -- Oleh Novita Intan, Elba Damhuri

Guratan-guratan positif perekonomian Indonesia mulai tampak jelas di tengah pandemi virus corona yang belum berakhir ini. Empat lembaga ekonomi kredibel dunia --Bank Dunia, OECD, Fitch Ratings, dan IMF-- menyampaikan prediksi optimisme mereka atas ekonomi Indonesia pada 2021 dan 2022. 

Baca Juga

Lembaga-lembaga ini juga menyampaikan berbagai tantangan ekonomi yang harus dijawab Pemerintah agar Indonesia keluar dari zona ekonomi kontraksi seperti pada 2020. Kuncinya tetap pada pemulihan kesehatan dengan program vaksinasi massal yang tepat dan benar.

Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 4,4 persen sepanjang tahun 2021 ini. Angka ini sama seperti proyeksi Bank Dunia pada akhir tahun lalu. 

Proyeksi Bank Dunia tersebut di bawah target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2021 sebesar 5 persen. Namun, proyeksi itu masuk dalam outlook yang dilakukan pemerintah sebesar 4,5 persen hingga 5,3 persen. 

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan pulih menjadi 4,4 persen pada tahun 2021,” kata Kepala Ekonom Bank Dunia Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, seperti dikutip dari laporan Bank Dunia Edisi April 2021 berjudul "Pemulihan Belum Merata", Jumat (26/3). 

Beberapa sektor dinilai masih lambat pemulihannya di antaranya sektor perdagangan, transportasi, dan perhotelan. 

Aaditya menilai perekonomian global secara keseluruhan pada tahun ini tumbuh tidak merata, utamanya di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Hanya China dan Vietnam yang perekonomiannya pulih secara cepat pada tahun ini. 

“Ekonomi China dan Vietnam mengalami grafik pemulihan berbentuk huruf V, perekonomian kedua negara tersebut dinilai melampaui tingkatan saat sebelum pandemi,” jelas Aaditya.

Di negara-negara besar, Bank Dunia memprediksi rata-rata pertumbuhan ekonominya berada di sekitar lima persen, di bawah tingkat sebelum pandemi. 

Kinerja perekonomian bergantung kepada efektivitas pengendalian virus, kemampuan memanfaatkan kebangkitan perdagangan internasional, dan kemampuan pemerintah negara masing-masing dalam memberikan dukungan fiskal dan moneter.

Negara-negara maju yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9 persen pada tahun 2021. 

Berdasarkan survei OECD, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali naik menjadi 5,4 persen pada tahun 2022.

Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria mengatakan pemulihan ekonomi Indonesia akibat pandemi akan berlangsung secara bertahap dan tergantung pada penanganan di sektor kesehatan.

Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5 persen-5,4 persen dengan titik tengah 5 persen, sementara proyeksi BI ekonomi akan tumbuh di kisaran 4,3 persen-5,3 persen.

Berbeda dengan Bank Dunia dan OECD, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memberikan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang jauh lebih optimistis. Sebelumnya, Fitch Ratings memberikan peringkat yang baik untuk kondisi perekonomian di Indonesia pada tahun ini. 

Fitch meramalkan....

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA