Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Studi: Ada Kaitan Jalan Kaki dengan Risiko Terkena Covid-19

Senin 22 Mar 2021 12:31 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Berjalan kaki cepat dan lambat memiliki risiko berbeda terkena Covid-19.

Berjalan kaki cepat dan lambat memiliki risiko berbeda terkena Covid-19.

Foto: www.freepik.com.
Berjalan kaki cepat dan lambat memiliki risiko berbeda terkena Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak awal pandemi Covid-19, para ahli kesehatan telah menemukan kaitan antara beberapa kondisi dengan peningkatan risiko kematian dan tingkat keparahan infeksi pada kasus Covid-19. Dalam studi terbaru, peneliti menemukan adanya kaitan antara peningkatan risiko kematian akibat Covid-19 dan kecepatan berjalan seseorang.

Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Obesity ini dilakukan oleh tim peneliti dari National Institute for Health Research (NIHR) Leicester Biomedical Research Center. Studi ini menemukan adanya kaitan antara kecepatan berjalan yang lambat dan peningkatan risiko kematian serta infeksi berat Covid-19.

Baca Juga

Secara spesifik, studi ini menemukan bahwa orang-orang dengan indeks massa tubuh (IMT) normal yang teridentifikasi sebagai pejalan kaki lambat memiliki risiko hampir 2,5 kali lebih besar untuk mengalami Covid-19 bergejala berat dibandingkan pejalan kaki cepat dengan IMT normal. Pejalan kaki lambat dengan IMT normal juga memiliki risiko sekitar 3,75 kali lebih besar untuk mengalami kematian akibat Covid-19.

Tak hanya itu, pejalan kaki lambat dengan berat badan normal juga memiliki risiko kematian dan infeksi Covid-19 berat yang lebih tinggi dibandingkan pejalan kaki cepat dengan obesitas. Akan tetapi, pejalan kaki dengan obesitas juga menghadapi peningkatan risiko terhadap kematian dan infeksi Covid-19 berat.

Peneliti mengungkapkan bahwa ini merupakan studi pertama yang menunjukkan bahwa pejalan kaki lambat memiliki risiko yang lebih besar terhadap risiko kematian dan infeksi Covid-19 berat, terlepas dari berat badan pasien. Padahal, obesitas diketahui merupakan salah satu faktor risiko kunci terhadap kondisi seseorang ketika terkena Covid-19.

"Pejalan kaki cepat secara umum tampak memiliki kesehatan kardiovaskular dan jantung yang baik, membuat mereka lebih tahan terhadap stressor eksternal, termasuk infeksi virus," kata ketua tim peneiti dari University of Leicester Profesor Tom Yates, seperti dilansir EatThis, Senin (22/3).

Profesor Yates menambahkan, saat ini sudah ada banyak studi besar yang melaporkan kaitan antara obesitas dan kerapuhan terhadap kondisi Covid-19. Akan tetapi, belum ada banyak data mengenai hubungan antara kondisi Covid-19 dengan fungsi fisik atau kebugaran.

Menurut Profesor Yates, penelitian terkait Covid-19 juga peru melibatkan pengukuran sederhana terhadap kebugaran fisik. Misalnya, meminta pasien melaporkan kecepatan berjalan mereka secara mandiri di samping informasi seputar IMT mereka.

"Sehingga dapat memberikan metode pencegahan yang lebih baik, yang dapat menyelamatkan jiwa," ujar Profesor Yates menjelaskan.

Terlepas dari temuan ini, hal terpenting yang perlu dilakukan pada masa pandemi ini adalah menerapkan protokol kesehatan secara benar dan disiplin. Salah satunya adalah dengan menggunakan masker yang sesuai dengan bentuk wajah dan terdiri dari setidaknya dua lapis.

Penting juga untuk menghindari kerumunan, melakukan jaga jarak fisik, dan menghindari bepergian yang tak penting. Beberapa hal lain yang sangat disarankan adalah menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer. Bila sudah tersedia, penting juga untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19 untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA