Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Studi: Hanya 0,65 Persen Orang Terinfeksi Covid-19 Dua Kali

Kamis 18 Mar 2021 20:14 WIB

Red: Qommarria Rostanti

Penelitian yang terbit di jurnal medis The Lancet itu menemukan bahwa hanya 0,65 persen pasien positif terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya, (ilustrasi).

Penelitian yang terbit di jurnal medis The Lancet itu menemukan bahwa hanya 0,65 persen pasien positif terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya, (ilustrasi).

Foto: Pixabay
Lansia di atas 65 tahun hanya 47 persen terlindungi dari infeksi berulang.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Mayoritas pengidap Covid-19 terlindungi dari infeksi berulang setidaknya selama enam bulan. Menurut sebuah studi, kondisi itu lebih rentan terjadi pada orang yang lebih tua dibandingkan mereka yang lebih muda.

Penelitian yang terbit di jurnal medis The Lancet itu menemukan bahwa hanya 0,65 persen pasien positif terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya terinfeksi selama gelombang pertama dan kedua di Denmark. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan 3,27 persen yang terbukti positif Covid-19 menggunakan tes PCR yang sangat akurat setelah awalnya negatif.

Namun, riset tersebut menemukan lansia di atas 65 tahun hanya 47 persen terlindungi dari infeksi berulang, dibandingkan dengan dengan 80 persen perlindungan pada kaum muda. "Riset kami menguatkan apa yang telah ditunjukkan oleh studi-studi lain yaitu infeksi Covid-19 berulang jarang terjadi pada orang yang lebih muda dan sehat, tetapi orang yang lebih tua memiliki risiko besar untuk terinfeksi kembali," jelas Steen Ethelberg dari Statens Serum Institut Denmark.

Hal itu disebabkan orang yang lebih tua lebih memungkinkan mengalami gejala penyakit parah. Hasil studimemperjelas seberapa penting untuk menerapkan kebijakan perlindungan terhadap kaum lansia selama pandemi.

"Para penulis riset menemukan tidak ada bukti bahwa perlindungan terhadap infeksi berulang menurun selama enam bulan masa tindak lanjut. Namun menurut mereka, riset lebih mendalam diperlukan untuk mengukur perlindungan terhadap infeksi berulang varian Covid-19," kata Ethelberg.

Data yang dianalisis itu dihimpun melalui strategi pengujian nasional Denmark, yang selama 2020 ada kurang dari 69 persen populasi atau empat juta orang yang diuji. Ketika mengomentari hasil tersebut, profesor Imperial College London Rosemary Boyton dan Danny Altmann menyebutkan hasil penelitian itu menunjukkan perlindungan yang lebih rendah dan lebih memprihatinkan ketimbang riset-riset sebelumnya.

"Data ini semuanya terkonfirmasi, jika diperlukan, bahwa untuk SARS-CoV-2 harapan perlindungan imunitas melalui infeksi alami mungkin tidak dapat kita jangkau dan program vaksinasi global dengan vaksin yang sangat ampuh merupakan solusi yang bertahan lama," ujarnya dalam komentar yang dipublikasi di jurnal The Lancet.

 

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA