Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Pejalan Kaki Lambat Berisiko Alami Covid-19 Lebih Parah

Kamis 18 Mar 2021 15:10 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti

Pejalan kaki lambat 2,5 kali lebih mungkin mengalami kasus Covid-19 yang parah dibandingkan pejalan kaki cepat. (ilustrasi).

Pejalan kaki lambat 2,5 kali lebih mungkin mengalami kasus Covid-19 yang parah dibandingkan pejalan kaki cepat. (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com.
Pengertian berjalan lambat yaitu dengan kecepatan kurang dari 4,8 kilometer per jam.

REPUBLIKA.CO.ID, LEICESTER -- Coba perhatikan cara Anda berjalan kaki mulai sekarang. Pasalnya, penelitian terbaru menemukan orang yang berjalan kaki dengan lamban punya risiko empat kali lebih besar meninggal dunia akibat Covid-19. Dilansir di laman BBC, Kamis (18/3), pejalan kaki 'normal' juga 3,75 kali lebih mungkin meninggal karena virus tersebut.

Para peneliti pun menemukan, pejalan kaki lambat 2,5 kali lebih mungkin mengalami kasus Covid-19 yang parah dibandingkan pejalan kaki cepat. Risiko kian tinggi pada pejalan kaki lambat yang juga mengidap obesitas. Studi yang meninjau data dari 412.596 orang paruh baya tersebut digagas oleh tim peneliti yang berbasis di Leicester, Inggris. 

Pengertian berjalan lambat menurut peneliti yaitu dengan kecepatan kurang dari 4,8 kilometer per jam. Kecepatan normal yakni 6,4 kilometer per jam, dan kategori berjalan cepat adalah yang lebih dari 6,4 kilometer per jam. 

Studi yang dilakukan Institut Nasional Penelitian Kesehatan (NIHR) Pusat Penelitian Biomedis Leicester itu mengeksplorasi relasi jalan kaki dan indeks massa tubuh (BMI). Hasilnya juga dikaitkan dengan Covid-19 dan mortalitas.

Namun, para peneliti mencatat, kecepatan berjalan yang dilaporkan sendiri oleh peserta juga punya kemungkinan bias pelaporan. Karena itu, penyebab kematian tak bisa dikaitkan secara definitif.

Temuan penelitian telah diterbitkan dalam International Journal of Obesity. Peneliti utama studi, Profesor Tom Yates, mengatakan, langkah kaki dapat digunakan untuk memprediksi risiko terserang virus. 

"Studi pengawasan harus mempertimbangkan untuk memasukkan langkah-langkah sederhana kebugaran fisik seperti kecepatan berjalan yang dilaporkan sendiri selain BMI, sebagai prediktor risiko potensial dari hasil Covid-19," ujarnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA