Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Bertem(u)an Antar Agama

Rabu 10 Mar 2021 21:13 WIB

Red: Joko Sadewo

Toleransi (ilustrasi)

Toleransi (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
Keberadaan minoritas dan mayoritas hendaknya tak akibatkan perpecahan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Rusydi.DR,

“Tak kenal maka tak sayang”, demikianlah sebuah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan hubungan pertemanan orang antar agama, baik di Indonesia maupun di belahan dunia sedari dulu. Sifat perangai seseorang tidak dapat diketahui pasti jika keduanya belum mengenal secara baik dan dekat.

Namun agak-agaknya, pertemuan antara Paus Fransiskus dengan Ulama dari Syiah yang terkemuka Ayyatollah Ali Al-Sistani di Kota Najaf wilayah Irak adalah contoh kongkrit bagaimana seharusnya pertemanan antar agama berlangsung dalam sebuah negara. Pertemuan ini setidaknya telah mengurangi luka sejarah kelam dua keyakinan yang saling berperang dimasa lampau.

Irak yang dahulunya adalah negara dengan jumlah penganut agama Katolik yang besar kemudian berangsur-angsur mengalami penurunan yang drastis. Hal itu terlihat saat dua dekade terakhir dimana salah satu komunitas Kristen tertua di dunia tersebut mengalami penurunan hingga 1% dari total populasi Irak. Dengan demikian dari total penganut agama Katolik yang berkisar antara 1,4 juta orang kini jumlahnya terjun bebas sekitar kurang dari 250.000 orang saja.

Ini tentu memberikan kesan bahwa sekarang komunitas Katolik di Irak telah menempati predikat sebagai komunitas yang minoritas. Konflik dan sentimen agama pun tidak bisa dihindarkan. Sebagai contoh pada tahun 2003 terjadi invasi besar-besaran yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat (AS) yang notabenenya dalam memandang Irak tidak lebih sebagai negara yang berbasis pada pelaku tindakan kekerasan, ekstremisme, faksi dan intoleran yang tidak hanya menyebabkan pada bencana perang dalam negeri, melainkan juga terorisme dan konflik sektarian.

Pihak non Katolik juga melihat bahwa apa yang dilakukan AS dengan segala intervensinya adalah bentuk campur tangan Barat yang mencoba merusak nama Islam dengan cara menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein yang di-framing-kan sebagai pemimpin yang mensponsori serangan terhadap Gedung World Trade Center (WTC) di New York sekaligus dituduh mengembangkan senjata pemusnah massal. Saddam Hussein pun menjadi representasi framing agama Islam yang dianggap menebar teror dan hingga saat ini framing dan anggapan tersebut masih sulit dilepaskan dari agama dengan jumlah penganut kedua terbesar di dunia tersebut.

Suka tidak suka, senang tidak senang meskipun mendapat penolakan dari warga Irak sendiri yang masih terngiang atas tindakan framing yang dilakukan oleh pihak Barat dalam mendiskriminasi Islam, kehadiran Paus Fransiskus telah menunjukkan itikad baik dua keyakinan dan dalam satu negara untuk sama-sama membangun kembali pondasi perdamaian di negara penghasil minyak yang terkenal itu.

Perdana Menteri Irak, Mustafa Al-Khadimi pun menyambut dengan baik kehadiran Paus yang dalam pidatonya menyerukan agar diakhirinya segala bentuk kekerasan dan ekstremisme. Menurut Paus, jumlah penduduk Katolik yang semakin sedikit harus bisa lebih bertanggungjawab dalam memelihara kebebasan dan tanggungjawab sebagai warga negara Irak yang baik.

Sebagai bentuk penghormatan, perlindungan yang ketat dilakukan untuk menyambut dan mengawal aktivitas Paus di Irak. Pemerintah Irak bahkan mengerahkan 10.000 personel pasukan pengamanan untuk kegiatan Paus, terutama untuk agenda ziarah ke makam Nabi Ibrahim dan berdo’a di Cruch Square di Mosul yang mana lokasi ini adalah lokasi perang ISIS yang menewaskan ribuan warga sipil tak berdosa.

Tindakan Irak ini sepertinya bisa ditiru oleh Myanmar, negara dengan jumlah Muslim minoritas dan penganut agama Budha yang mayoritas. Sebagaimana kita ketahui bersama, konflik antar agama menjadi topik yang hingga saat ini belum juga usai diselesaikan oleh pemerintah Myanmar sendiri.

Muslim yang minoritas menjadi bulan-bulanan dari oknum ekstremis yang mengatasnamakan agama Budha sebagai alat untuk menindas dan melakukan pelanggaran HAM yang berat. Padalah di Indonesia misalkan, harmonisasi antara Muslim dan Budha sangatlah kuat. Toleransi yang berjalan sepanjang sejarah Indonesia membawa dua agama ini menjadi perekat persatuan bangsa Indonesia.

Pertemuan seperti yang dilakukan oleh Paus Fransiskus dengan Ayyatollah Ali Al-Sistani di Irak hendaknya juga dilakukan di Myanmar. Hal tersebut tidak saja membawa angin segar atas akan berdamainya kedua belah pihak, namun juga akan memunculkan inisiatif terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan dan membawa perubahan masa depan yang baik. Keberadaan Muslin yang minoritas dan Budha yang Mayoritas di Myanmar hendaknya tidak mengakibatkan perpecahan dan pelanggaran HAM yang berat terjadi. Mungkin Myanmar bisa belajar dari Irak bagaimana proses perdamaian dan insiasi pertemuan antar agama mayoritas dan minoritas yang terus dipupuk dari masa ke masa. Atau bisa jadi Myanmar harus belajar bagaimana Indonesia memainkan peranan perbedaan agama yang justru menjadi kekayaan sekaligus perekat warga negara terutama dalam menjalankan toleransi dan menjaga keberagaman. 

*) Penulis adalah Tenaga Ahli DPR-RI dan Wakil Presiden Pemuda OKI

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA