Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Sogok Peserta KLB Demokrat Dinilai Cara tak Bermoral

Selasa 09 Mar 2021 11:08 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Indira Rezkisari

Moeldoko menyampaikan pidato perdana saat Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di The Hill Hotel Sibolangit, Deli Serdang, Sumatra Utara, Jumat (5/3/2021). Berdasarkan hasil KLB, Moeldoko terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat periode 2021-2025.

Moeldoko menyampaikan pidato perdana saat Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di The Hill Hotel Sibolangit, Deli Serdang, Sumatra Utara, Jumat (5/3/2021). Berdasarkan hasil KLB, Moeldoko terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat periode 2021-2025.

Foto: Antara/Endi Ahmad
Pelaku kudeta Demokrat disebut janjikan uang suap Rp 100 juta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, menanggapi suap yang diberikan pada para peserta Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat di Sumatra Utara pada pekan lalu. Herzaky menilai tindakan para inisiator KLB itu tak bermoral.

Herzaky menyampaikan, para pelaku kudeta Partai Demokrat menjanjikan uang suap Rp 100 juta berdasarkan pengakuan para kader. Jumlah uang itu ia temukan ternyata di luar biaya transportasi dan penginapan yang hadir di KLB Sumut.

"Jadi, salah kalau dibilang ini sebagai pengganti transportasi. Sistem pembayarannya dengan uang muka Rp 25 juta, dan dibayarkan sisanya setelah Kongres selesai," kata Herzaky pada Republika.co.id, Selasa (9/3).

Herzaky merasa prihatin atas tindakan para penggagas KLB Sumut. Menurutnya, upaya suap justru merendahkan muruah partai. Ia khawatir nama besar Demokrat akan luntur dengan mental suap-menyuap.

"Kami sangat menyayangkan perilaku tidak terpuji dan di luar batas-batas kepatutan seperti ini. Kehormatan dan kedaulatan serta kebesaran partai tidak bisa dibangun dengan cara-cara immoral seperti ini," ujar Herzaky.

Herzaky menilai gaya politik serampangan dengan suap terjadi sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Tindakan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko dianggapnya mencoreng nilai demokrasi di Tanah Air.

Baca juga : Frasa Agama di Peta Pendidikan, Ini Respons Wapres

"Beginilah kalau oknum kekuasaan mempertontonkan kuasanya di muka publik. Perilaku abuse of power yang menggerogoti sendi-sendi demokrasi," sindir Herzaky.

Diketahui, salah satu peserta KLB Deli Serdang, Sumut Gerald Piter Runtuthomas, yang sebelumnya merupakan Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Kota Kotamobagu mengungkap bahwa ia diimingi uang sebesar Rp 100 juta. Namun, mereka hanya menerima Rp 5 juta setelah acara tersebut.

Saat sejumlah peserta menyampaikan protesnya karena uang yang dijanjikan kurang, mereka kemudian dipanggil dan bertemu dengan mantan bendahara umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Lalu, Nazaruddin menambah Rp 5 juta sebagai uang pelicin kepada masing-masing peserta.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA