Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Emil Dardak Beberkan Tantangan Pendidikan di Jatim

Senin 08 Mar 2021 09:59 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Hiru Muhammad

Siswa SMK mengikuti kegiatan belajar mengajar saat uji coba pembelajaran tatap muka di SMK Islam 1 Blitar, Jawa Timur, Selasa (18/8/2020). Pemprov Jatim memulai uji coba pembelajaran tatap muka di 90 sekolah tingkat SMA,SMK, dan SMALB di 30 Kabupaten/Kota, meskipun masih berstatus zona merah, orange, dan kuning .

Siswa SMK mengikuti kegiatan belajar mengajar saat uji coba pembelajaran tatap muka di SMK Islam 1 Blitar, Jawa Timur, Selasa (18/8/2020). Pemprov Jatim memulai uji coba pembelajaran tatap muka di 90 sekolah tingkat SMA,SMK, dan SMALB di 30 Kabupaten/Kota, meskipun masih berstatus zona merah, orange, dan kuning .

Foto: Antara/Irfan Anshori
Emil menekankan pentingnya eksistensi Komnasdik.

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA--Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjelaskan, ada banyak tantangan yang dihadapi di bidang pendidikan, khususnya bagi Dinas Pendidikan Jatim selaku kepanjangan tangan Pemprov. Tantangan yang dimaksud di antaranya masalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jatim. Agar pendidikan ini bisa mendorong pertumbuhan IPM Jatim.

"Tantangan lainnya perlindungan bagi guru dan tenaga kependidikan, disparitas pendidikan, sistem zonasi saat Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB), sistem digitalisasi pendidikan di masa pandemi seperti saat ini, dan sebagainya," kata Emil di Surabaya, Senin (8/3).

Emil mengakui, permasalahan yang kerap dihadapi Dinas Pendidikan Jatim adalah saat memasuki Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi. Dinas Pendidikan dituntut merumuskan cara agar sistem tersebut bisa memberikan rasa keadilan bagi masyarakat Jatim yang ingin mendaftarkan putra putrinya di sekolah tertentu berbasis Kartu Keluarga (KK).

Karena, sistem tersebut membuat sebagian orang berupaya agar anaknya dapat diterima di sekolah tertentu. Salah satunya dengan memasukkan anak mereka ke dalam KK saudara atau teman mereka yang lokasinya dekat dengan sekolah yang ingin dituju. Namun di sisi lain anak tersebut tidak tinggal di keluarga itu.

"Ini penting karena kalau dari penerimaannya saja orang sudah tidak punya trust (kepercayaan), bagaimana mereka punya trust kepada sistemnya," ujarnya.

Oleh karena itu, Emil menekankan pentingnya eksistensi Komnasdik. Salah satunya adalah untuk mencoba menjembatani, menyampaikan aspirasi atau mengkritisi regulasi. Sehingga ke depan akan ada kebijakan-kebijakan yang lebih konstruktif bagi dunia pendidikan.

Emil menaruh harapan kepada Komnasdik Jatim agar terus berkolaborasi, bersinergi dengan Pemprov Jatim, utamanya Dinas Pendidikan dalam membangun dan mengembangkan pendidikan di Jawa Timur. Karena, kata dia, Pemprov Jatim pada urusan pendidikan membutuhkan mitra kerja yang juga berfungsi sebagai check and balance, kawan berdiskusi, dan bertukar pikiran terhadap kebijakan yang diambil."Harapan saya Komnasdik akan terus menjadi mitra kita untuk membangun, karena pendidikan adalah sekali lagi lentera kita, penentu masa depan kita," kata dia.

Ketua Dewan Pengurus Nasional Komnasdik Burhanudin Tola mengapresiasi upaya sinergi yang dibangun antara Dinas Pendidikan Provinsi Jatim dengan Komnasdik Jatim. Dirinya menilai, berbagai hal yang telah dilakukan kedua lembaga tersebut perlu diadaptasi daerah lain."Jawa Timur ini alhamdulillah sudah melakukan berbagai hal bagus untuk nanti bisa dicontoh oleh komnas-komnas di wilayah lain," kata dia.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA