Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Orang Myanmar Disebut Putus Asa Terhadap Tanggapan Dunia

Jumat 05 Mar 2021 04:09 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Muhammad Hafil

 Orang Myanmar Disebut Putus Asa Terhadap Tanggapan Dunia. Foto: Pengunjuk rasa anti-kudeta melepaskan alat pemadam kebakaran untuk melawan dampak gas air mata yang ditembakkan oleh polisi selama demonstrasi di Yangon, Myanmar Kamis, 4 Maret 2021. Demonstran di Myanmar yang memprotes kudeta militer bulan lalu kembali ke jalan-jalan pada hari Kamis, tidak gentar oleh pembunuhan tersebut. setidaknya 38 orang pada hari sebelumnya oleh pasukan keamanan.

Orang Myanmar Disebut Putus Asa Terhadap Tanggapan Dunia. Foto: Pengunjuk rasa anti-kudeta melepaskan alat pemadam kebakaran untuk melawan dampak gas air mata yang ditembakkan oleh polisi selama demonstrasi di Yangon, Myanmar Kamis, 4 Maret 2021. Demonstran di Myanmar yang memprotes kudeta militer bulan lalu kembali ke jalan-jalan pada hari Kamis, tidak gentar oleh pembunuhan tersebut. setidaknya 38 orang pada hari sebelumnya oleh pasukan keamanan.

Foto: AP
Orang Myanmar berharap ada tindakan tegas terhadap kudeta militer.

REPUBLIKA.CO.ID,  NEW YORK -- Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Christine Schraner Burgener mengatakan, dia menerima sekitar dua ribu pesan setiap hari dari orang-orang Myanmar yang merasa putus asa terhadap tanggapan internasional terkait kudeta militer. Burgener mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan tegas, dan menekankan bahwa sanksi Dewan Keamanan PBB akan "lebih kuat" daripada sanksi oleh masing-masing negara.

Burgener mengatakan, dia telah berbicara dengan perwakilan dari parlemen Myanmar yang digulingkan. Dia juga telah berbicara dengan wakil panglima angkatan bersenjata Myanmar Soe Win. Dalam panggilan telepon pada 4 Februari, Soe Win mengatakan, Dewan Administrasi Negara yang baru akan menerapkan peta jalan militer untuk Myanmar.

Peta jalan itu termasuk menyusun kembali komisi pemilihan umum. Soe Win menyatakan bahwa junta akan mengadakan pemilihan umum ulang setelah satu tahun. Salah satu latar belakang militer melakukan kudeta yaitu ditemukan kecurangan dalam pemilihan umum November lalu yang dimenangkan oleh Aung San Suu Kyi, yang meraih 82 persen suara. Namun, komisi pemilihan umum membantah bahwa ada kecurangan.

Peta jalan itu juga mencakup perjanjian gencatan senjata nasional dengan 21 kelompok etnis bersenjata di Myanmar. Menurut Burgener, gencatan senjata akan sulit dilakukan karena 10 kelompok etnis bersenjata telah mengambil sika tegas terhadap kudeta. Selain itu, junta militer juga akan memberantas Covid-19 dan memulihkan aktivitas bisnis.

Burgener menduga, militer Myanmar berupaya untuk melumpuhkan Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dengan "taktik" menangkap sejumlah tokoh-tokoh utama partai tersebut, dan membuktikan bahwa mereka melakukan kejahatan seperti kecurangan dalam pemilu, pengkhianatan, dan bekerja dengan orang asing. Pada akhirnya NLD akan dilarang dan militer mengadakan pemilihan umum ulang untuk meraup suara serta berkuasa.

Baca juga : Tentara Myanmar Ancam Pengunjuk Rasa di TikTok

"Tentara telah memberi tahu saya rencananya untuk mengancam orang-orang, melakukan penangkapan dan kemudian mayoritas orang akan pulang karena mereka takut. Kemudian militer memiliki kendali kembali, dan orang-orang akan terbiasa dengan situasi tersebut dan kembali ke aktivitas seperti biasa," kata Burgener.

Burgener mengatakan, militer Myanmar terkejut dengan oposisi yang sebagian besar dipimpin oleh kaum muda. Menurut Burgener, sebelumnya militer berpikir dapat melakukan kudeta dengan mudah seperti yang telah mereka lakukan pada masa lalu. Namun, kali ini pemuda Myanmar lebih berani untuk berbicara dan mengambil sikap atas kudeta tersebut.

“Saya pikir tentara sangat terkejut bahwa itu tidak berhasil karena di masa lalu, pada 1988 dan 2007 dan 2008, itu berhasil,” kata Burgener, mencatat tahun-tahun penumpasan kekerasan militer sebelumnya terhadap pemberontakan melawan pemerintahannya.

Bugener memiliki kantor di Naypyitaw. Sejak terjadi kudeta Burgener belum mengunjungi Myanmar. Dia telah meminta izin agar bisa mengunjungi Myanmar kepada junta militer dengan syarat bahwa dia bisa berbicara dengan para pimpinan militer, dan bertemu dengan perwakilan anggota parlemen yang digulingkan termasuk Suu Kyi dan Presiden Win Myint.

Baca juga : 5 Golongan yang Dibenci dan Dilaknat Malaikat

“Saya sangat berharap bisa mengunjungi Myanmar secepat mungkin. Saya tidak memiliki solusi untuk masalah ini, tapi saya punya beberapa ide yang ingin saya diskusikan," ujar Burgener. 

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA