Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Pakar Terangkan Beda Waktu Hujan Es Yogya dan Sleman

Kamis 04 Mar 2021 10:55 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Indira Rezkisari

Ilustrasi Hujan Es.

Ilustrasi Hujan Es.

Foto: Foto : MgRol_94
Kemarin, Yogya dan Sleman alami hujan es dalam waktu yang berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Beberapa titik di DIY seperti Tugu Yogyakarta dan Turi Sleman diguyur hujan lebat disertai es yang sebagian besar berukuran biji kelereng. Walau durasi tidak lama, kejadian itu menarik perhatian warga karena setiap hari mengalami hujan es.

Pakar klimatologi UGM, Dr Emilya Nurjani, mengatakan, hujan es atau sering disebut hail merupakan hasil pembentukan awan Cumulonimbus yang tumbuh vertikal melebihi titik beku air. Awan tumbuh di ketinggian sekitar 450-10.000 mdpl saat masa udara kondisi tidak stabil.

"Awan bagian bawah (panas) mengandung uap air yang turun sebagai hujan yang kita kenal, sedangkan bagian atas (dingin) awan mengandung es. Bagian ini yang jatuh sebagai hail karena suhu udara di permukaan di Yogya dan Turi mendukung kristal es tetap membeku," kata Emilya, Kamis (4/3).

Ia menerangkan, di negara-negara empat musim hail yang jatuh berukuran besar saat musim dingin karena suhu udara permukaan dingin, sehingga hail tidak mencair. Penyebabnya, tinggi kelembaban udara, massa udara tidak stabil dan suhu permukaan bumi mendukung.

Namun, di negara-negara tropis lebih mempunyai dampak skala horizontal dan waktu yang berbeda-beda. Awan stratus yang tidak tebal dan mengandung air, sehingga durasi hujan pendek, hujan ringan sampai sedang, wilayah yang terdampak sekitar 100-2.000 meter.

"Begitu juga awan Cumulonimbus, tumbuh vertikal ke atas tapi tidak lebar, sehingga wilayah terdampak tidak luas, tapi hujannya cukup deras. Kemungkinan awan Cumulonimbus yang di Turi dan di Kota berbeda, sehingga waktu kejadiannya berbeda," ujar Emilya.

Penyebab utama hujan es lebih banyak disebabkan kondisi alam dengan kelembaban tinggi, massa udara tidak stabil dan suhu permukaan bumi mendukung. Serta, akibat perubahan suhu udara di troposfer bagian atas tempat terbentuknya awan-awan yang mengandung es.

"Jika suhu permukaan bumi cukup rendah, maka kristal es akan mencapai bumi dalam bentuk es atau hail. Tapi, kalau suhu permukaan bumi cukup panas, maka kristal es akan sampai permukaan bumi sebagai hujan yang kita kenal," kata Emilya.

Ia menambahkan, durasi hujan es ini tidak lama tergantung volume awan Cumulonimbus yang terbentuk. Karena ukuran hail yang terbentuk di daerah tropis umumnya kecil, sehingga berlindung di bawah bangunan atau di dalam kendaraan atau payung bisa menjadi pilihan.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA