Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Manfaat Bayi Tabung yang Jarang Diketahui Masyarakat

Rabu 03 Mar 2021 15:17 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti

Bayi tabung (ilustrasi).

Bayi tabung (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com.
Bayi tabung tidak hanya dapat membantu pasangan dengan masalah kesuburan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Metode in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung merupakan teknologi reproduksi berbantu yang menjadi lini ketiga dalam terapi gangguan kesuburan. Selain dapat membantu pasangan dengan masalah gangguan kesuburan, bayi tabung juga memiliki manfaat lain yang mungkin jarang diketahui kebanyakan masyarakat awam.

"Bayi tabung adalah metode reproduksi berbantu yang mempertemukan sperma dan sel telur di luar tubuh manusia," kata Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas, Endokrinologi dan Reproduksi dari RS Pondok Indah IVF Centre dr Yassin Yanuar Mohammad SpOG-KFER MSc, dalam konferensi pers daring yang digelar RS Pondok Indah Group.

Setelah terjadi pembuahan, embrio yang terbentuk akan ditanam kembali ke dalam rahim calon ibu dengan harapan akan terjadi kehamilan. Pada bayi tabung, proses kehamilan tetap akan berlangsung di dalam tubuh calon ibu.

"Jadi bukan hamilnya di luar, di tabung laboratorium," ujar dr Yassin.

Ada beberapa kondisi di mana bayi tabung akan diperlukan. Misalnya, ketika pasangan dengan gangguan kesuburan sudah menjalani terapi lini pertama dan kedua namun belum berhasil mencapai kehamilan.

Contoh lainnya, bayi tabung juga diperlukan bila suami memiliki masalah seperti azoospermia. Azoospermia merupakan kondisi di mana jumlah sperma yang terdapat pada air mani laki-laki adalah 0.

"Azoospermia merupakan indikasi mutlak dilakukan bayi tabung," kata dr Yassin.

Namun selain dapat membantu pasangan dengan masalah kesuburan, bayi tabung juga bisa membantu pasangan suami-istri dengan kondisi-kondisi lain. Berikut ini adalah kelima kondisi yang juga dapat dibantu oleh bayi tabung, seperti diungkapkan oleh dr Yassin:

1. Long distance marriage

Long distance marriage (LDM) bukan merupakan indikasi medis. Akan tetapi, pasangan suami-istri yang menjalani LDM biasanya tidak bertemu dalam waktu yang lama. Padahal, cadangan telur yang dimiliki oleh istri akan semakin menurun seiring dengan berjalannya waktu.

Dalam kondisi seperti ini, IVF atau bayi tabung bisa membantu pasangan LDM untuk memiliki keturunan. IVF dapat menjadi pilihan karena prosesnya terbilang sangat fleksibel dan bisa diatur sesuai dengan ketersediaan waktu dari pasangan suami dan istri.

"Kami bisa atur sedemikian rupa dari sisi keleluasaan waktu dari suami maupun istri," kata dr Yassin.

2. Preservasi kesuburan

Teknologi bayi tabung juga bisa digunakan untuk 'mengawetkan' kesuburan seseorang. Misalnya, pada pasien perempuan dengan penyakit berat seperti kanker yang harus menjalani kemoterapi. Seperti diketahui, kemoterapi bisa berdampak pada fungsi reproduksi dan mempengaruhi sel-sel di ovarium. Padahal, pasien tersebut berkeinginan untuk memiliki keturunan nantinya.

Pada kasus seperti ini, pasien bisa menjalani proses pengambilan cadangan sel telur terlebih dahulu sebelum memulai kemoterapi. Cadangan sel telur ini nantinya bisa dibekukan dan disimpan di tempat yang aman.

"Nanti setelah pengobatan kankernya selesai, maka pada saat pasiennya siap hamil, kita dapat melakukan penanganan (bayi tabung) tersebut," kata dr Yassin.

3. Infeksi

Sebagian pasangan mungkin menghadapi situasi di mana suami mengalami infeksi HIV, hepatitis B, atau hepatitis C. Hubungan seksual dapat meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit-penyakit tersebut. Dalam kondisi seperti ini, proses bayi tabung dapat membantu pasangan untuk mendapatkan keturunan yang sehat.

4. Pencegahan penyakit genetik

Pada proses bayi tabung, pemeriksaan embrio bisa dilakukan terlebih dahulu sebelum embrio ditanamkan ke rahim ibu. Pemeriksaan ini dapat membantu menemukan dan mencegah peluang terjadinya penyakit genetik berulang dalam sebuah keluarga.

"Untuk meminimalisir terjadinya penyakit genetik pada anak yang nanti dikandungnya," ujar dr Yassin.

5. Disfungsi seksual dan vaginismus

Masalah disfungsi seksual dan juga vaginismus bisa membutuhkan waktu yang lama untuk diterapi. Di sisi lain, cadangan sel telur pada perempuan tidak bisa menunggu terlalu lama. Penundaan kehamilan dapat berpengaruh pada tingkat keberhasilannya.

Pasangan yang memiliki masalah seperti ini bisa memanfaatkan teknologi bayi tabung untuk memiliki keturunan. Alasannya, proses terapi untuk disfungsi seksual atau vaginismus dan juga bayi tabung bisa dijalani secara simultan.

"Jadi ini merupakan berbagai hal yang bisa mendapatkan manfaat dari terapi bayi tabung," kata dr Yassin. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA