Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Konsumsi Soda Tingkatkan Risiko Penyakit Autoimun

Ahad 28 Feb 2021 21:29 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti

Soda. Ilustrasi

Soda. Ilustrasi

Foto: Huffingtonpost
Penderita RA umumnya mengalami gejala berupa nyeri dan bengkak di sendi-sendi tangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang sudah mengetahui bahwa minum minuman bersoda secara rutin bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Akan tetapi, belum banyak yang menyadari bahwa konsumsi minuman bersoda secara rutin tampak berkaitan dengan risiko penyakit autoimun.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi di The American Journal of Clinical Nutrition. Studi tersebut menyatakan perempuan yang minum satu porsi soda atau lebih per hari memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena rheumatoid arthritis (RA). RA merupakan penyakit autoimun di mana sistem imun menyerang sel-sel sehat tubuh dan menyebabkan inflamasi di seluruh tubuh.

Penderita RA umumnya mengalami gejala berupa nyeri dan bengkak di sendi-sendi tangan, pergelangan tangan, dan dengkul. Keluhan tersebut dapat muncul karena lapisan pada sendi terinflamasi, sehingga jaringan sendi menjadi rusak.

Namun, tim peneliti menegaskan bahwa temuan ini hanya menemukan korelasi antara konsumsi soda yang berlebih dengan risiko RA. Peneliti menegaskan temuan ini tidak dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa konsumsi soda pasti akan meningkatkan risiko kejadian RA pada seseorang.

"Akan tetapi, orang-orang yang minum soda terlalu banyak lebih rentan terhadap RA," ujar ketua tim peneliti dari Harvard School of Public Health, Yang Hu, seperti dilansir di Eat This.

Banyak studi yang menunjukkan bahwa kandungan gula dalam soda berkaitan dengan obesitas, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2. Masalah kesehatan tersebut juga umum ditemukan pada penderita RA.

Berdasarkan studi ini, tim peneliti mengatakan perempuan berusia lebih tua memiliki risiko tertinggi terhadap RA. Meski penyebab RA tak diketahui, studi ini mengindikasikan bahwa pola makan kemungkinan menjadi salah satu faktor yang berperan.

"Gula mungkin merupakan stimulus lingkungan mirip seperti merokok pada orang-orang yang rentan," kata ahli rheumatologi dari Hospital for Special Surgery di New York Susan Goodman MD.

Berdasarkan teori ini, Susan menilai hubungan soda dan RA bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Alasannya, minuman soda dikenal memiliki kandungan gula yang besar. Satu kaleng minuman soda bisa mengandung sekitar 39 gram gula.

Meski bukan untuk mencegah RA, membatasi asupan gula dan minuman bersoda merupakan hal yang baik untuk dilakukan. Cara ini dapat membantu untuk menurunkan risiko terjadinya penyakti kronis di masa mendatang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA