Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Indonesia Butuh Investasi Rp 5.891 Triliun Tahun Depan

Sabtu 20 Feb 2021 05:27 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Dwi Murdaningsih

Investasi di Indonesia (Ilustrasi)

Investasi di Indonesia (Ilustrasi)

Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Investasi itu diperlukan demi mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,4 sampai 6.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas memperkirakan, total kebutuhan investasi tahun depan mencapai Rp 5.891,4 trilun sampai Rp 5.931 triliun. Jumlah itu dibutuhkan untuk untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,4 sampai 6 persen.

Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, peranan investasi swasta akan menjadi dominan untuk memenuhi kebutuhan tersebut yakni antara 81,9-84 persen. Jumlah itu setara dengan Rp 4.857 triliun sampai dengan Rp 4.948 triliun.

Sebanyak 7,5-8,4 persen lainnya atau sekitar Rp 439 trilun sampai Rp 497 triliun akan dipenuhi oleh pemerintah. Sedangkan, sisanya adalah dari belanja modal BUMN, yakni antara Rp 503 triliun hingga Rp 577 triliun.

Amalia mengatakan, pemerintah dan BUMN ditargetkan menjadi pendukung investasi swasta. "Sementara peranan investasi swasta diharapkan dapat berikan stimulus dan confidence terhadap investasi swasta, dan investasi BUMN diharapkan jadi leverage atau pengungkit dari investasi swasta," katanya dalam Kick Off Meeting Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2022 secara virtual pada Jumat (19/2).

Pada tahun depan, Amalia menjelaskan, tema RKP yang dipilih adalah pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Topik pemulihan ekonomi menunjukkan, peran pemerintah masih dibutuhkan untuk akselerasi proses pemulihan, baik di masyarakat maupun dunia usaha.

Sementara itu, tema kedua menunjukkan, kebijakan 2022 diarahkan untuk melakukan reformasi struktural yang selama ini tertinggal. Tujuannya agar daya saing Indonesia dapat meningkat di tengah persaingan global.

Dengan dua tema ini, Amalia menuturkan, program pemerintah harus ditujukan untuk dua hal. "Strategi kebijakan tidak hanya untuk mengembalikan tingkat ekonomi sebelum krisis, tapi kita harus tumbuh lebih baik sebelum tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

Amalia menyebutkan, proses vaksinasi yang diperkirakan rampung pada Maret 2022 diyakini mampu menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan ini. Herd immunity diperkirakan terjadi seiring dengan penyelesaian proses vaksinasi ke seluruh masyarakat. Dampaknya, aktivitas ekonomi bisa berjalan maksimal dan mendorong pertumbuhan secara nasional.

Sumber pertumbuhan ekonomi tahun depan diharapkan berasal dari investasi, ekspor dan industri pengolahan. Ketiga sumber ini diyakini membaik seiring dengan pemulihan ekonomi global.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA