Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

In Picture: Astronom Temukan Galaksi Kerdil Aneh dan Misterius

Senin 08 Feb 2021 07:48 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Galaksi (ilustrasi).

Foto: Science Alert
Galaksi kerdil ini memiliki materi gelap yang sangat besar, 10 juta massa matahari.

REPUBLIKA.CO.ID, MASSACHUSETTS -- Galaksi kerdil kuno berukuran kecil bernama Tucana II yang mengorbit di Bima Sakti  menyimpan rahasia besar. Menurut studi baru tentang bintang-bintang di sekitar objek, meskipun galaksi ini kerdil namun memiliki halo materi gelapnya yang sangat masif.

Halo adalah lingkaran cahaya di sekitar materi gelap. Meskipun massa bintang Tucana II hanya sekitar 3.000 kali massa Matahari, halo materi gelapnya memiliki 10 juta kali massa Matahari.

Kapasitas itu sekitar tiga hingga lima kali lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa galaksi paling awal di alam semesta bisa jadi jauh lebih masif dari yang kita ketahui.

“Tucana II memiliki massa yang jauh lebih banyak dari yang kami duga, untuk mengikat bintang-bintang yang sangat jauh ini,” kata ahli astrofisika Anirudh Chiti dari MIT.

Baca Juga

“Ini berarti bahwa galaksi peninggalan lain mungkin memiliki lingkaran cahaya seperti ini juga,” ujarnya.

Bima Sakti memiliki segerombolan galaksi kerdil yang menyertainya. Ini adalah gugusan bintang kecil dan samar yang memiliki logam sangat rendah. Karakteristik ini mengungkapkan mereka sudah sangat tua. Sebab, logam membutuhkan waktu untuk terbentuk di jantung dan menyebar ke seluruh alam semesta.

Tucana II, terletak sekitar 163.000 tahun cahaya dari Bumi, termasuk yang terkecil. Berdasarkan logam dari populasi bintangnya, bintang ini juga termasuk yang tertua. Hampir tidak ada logam yang ditemukan. Chiti dan timnya sedang menyelidiki bintang-bintang ini, berharap menemukan populasi bintang yang lebih tua.

Ilmuwan melakukan pengamatan menggunakan teleskop SkyMapper Universitas Nasional Australia. Mereka kemudian menjalankan hasilnya melalui algoritma yang dirancang Chiti untuk memilih bintang miskin logam. Selain bintang-bintang di jantung Tucana II, algoritma mendeteksi sembilan bintang baru, pada jarak yang cukup jauh.

Data dikumpulkan oleh satelit Gaia-satelit untuk memetakan Bima Sakti dalam tiga dimensi, termasuk pergerakan bintang. Bintang-bintang yang jauh dari inti galaksi kerdil itu mengorbit di sekitarnya, terikat secara gravitasi.


REPUBLIKA.CO.ID, MASSACHUSETTS -- Galaksi kerdil kuno berukuran kecil bernama Tucana II yang mengorbit di Bima Sakti  menyimpan rahasia besar. Menurut studi baru tentang bintang-bintang di sekitar objek, meskipun galaksi ini kerdil namun memiliki halo materi gelapnya yang sangat masif.

Halo adalah lingkaran cahaya di sekitar materi gelap. Meskipun massa bintang Tucana II hanya sekitar 3.000 kali massa Matahari, halo materi gelapnya memiliki 10 juta kali massa Matahari.

Kapasitas itu sekitar tiga hingga lima kali lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa galaksi paling awal di alam semesta bisa jadi jauh lebih masif dari yang kita ketahui.

“Tucana II memiliki massa yang jauh lebih banyak dari yang kami duga, untuk mengikat bintang-bintang yang sangat jauh ini,” kata ahli astrofisika Anirudh Chiti dari MIT.

Baca Juga

“Ini berarti bahwa galaksi peninggalan lain mungkin memiliki lingkaran cahaya seperti ini juga,” ujarnya.

Bima Sakti memiliki segerombolan galaksi kerdil yang menyertainya. Ini adalah gugusan bintang kecil dan samar yang memiliki logam sangat rendah. Karakteristik ini mengungkapkan mereka sudah sangat tua. Sebab, logam membutuhkan waktu untuk terbentuk di jantung dan menyebar ke seluruh alam semesta.

Tucana II, terletak sekitar 163.000 tahun cahaya dari Bumi, termasuk yang terkecil. Berdasarkan logam dari populasi bintangnya, bintang ini juga termasuk yang tertua. Hampir tidak ada logam yang ditemukan. Chiti dan timnya sedang menyelidiki bintang-bintang ini, berharap menemukan populasi bintang yang lebih tua.

Ilmuwan melakukan pengamatan menggunakan teleskop SkyMapper Universitas Nasional Australia. Mereka kemudian menjalankan hasilnya melalui algoritma yang dirancang Chiti untuk memilih bintang miskin logam. Selain bintang-bintang di jantung Tucana II, algoritma mendeteksi sembilan bintang baru, pada jarak yang cukup jauh.

Data dikumpulkan oleh satelit Gaia-satelit untuk memetakan Bima Sakti dalam tiga dimensi, termasuk pergerakan bintang. Bintang-bintang yang jauh dari inti galaksi kerdil itu mengorbit di sekitarnya, terikat secara gravitasi.


  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA