Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Ilmuwan Ungkap Cara Menghentikan Strain Corona Baru

Selasa 26 Jan 2021 01:30 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Cerpelai. Ternak cerpelai di Denmark dimusnahkan untuk mengantisipasi dampak mutasi galur (strain) virus corona.

Cerpelai. Ternak cerpelai di Denmark dimusnahkan untuk mengantisipasi dampak mutasi galur (strain) virus corona.

Foto: EPA
Stimulus ekonomi dan aktivitas memberi kesempatan virus bermutasi menjadi lebih jahat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekelompok ahli meminta pemerintah-pemerintah dunia untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat di masa pandemi. Protokol kesehatan yang sangat ketat ini dinilai sebagai satu-satunya cara untuk mengurangi evolusi dan penyebaran beberapa strain SARS-CoV-2 baru.

Para peneliti dari University of East Anglia (UEA), Earlham Institute, dan University of Minnesota ini memahami saat ini pemerintah di berbagai negara sedang berupaya menciptakan keseimbangan antara kondisi kesehatan dan perekonomian. Akan tetapi, tim peneliti mengatakan beragam stimulus ekonomi dan aktivitas terkait yang digelar di banyak negara tampak memicu peningkatan transmisi orang ke orang.

"Kita memperpanjang rantai transmisi patogen, menyediakan lebih banyak kesempatan (bagi virus) untuk bermutasi dan berevolusi menjadi varian yang lebih jahat," jelas tim peneliti, seperti dilansir EurekAlert.

Selain itu, tim peneliti juga menyoroti peningkatan virulensi atau R value. Menurut tim peneliti, peningkatan ini juga mungkin dipengaruhi oleh evolusi virus yang membuat mereka mampu menginfeksi manusia dengan lebih lama.

Tim peneliti megatakan kemunculan beragam strain SARS-CoV-2 baru dapat megancam efektivitas vaksin Covid-19 yang saat ini sedang disebarkan. Tim peneliti menilai yang menjadi ancaman bukan hanya strain baru yang sudah ditemukan saat ini, tetapi juga strain baru yang akan muncul di masa mendatang.

"Kita perlu menghentikan evolusi dan penyebaran strain-strain virus yang lebih mematikan sekarang," jelas tim peneliti melalui jurnal Virulence, seperit dilansir EurekAlert.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA