Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Intelijen AS Peringatkan Bahaya Pengembangan Nuklir Korut

Ahad 24 Jan 2021 11:13 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Orang-orang menonton berita tentang pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan moratorium tes nuklir dan rudal jarak jauhnya selama pertemuan Komite Sentral Partai Buruh yang berkuasa, di sebuah televisi di Stasiun Seoul di Seoul, Korea Selatan, 01 Januari 2020

Orang-orang menonton berita tentang pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan moratorium tes nuklir dan rudal jarak jauhnya selama pertemuan Komite Sentral Partai Buruh yang berkuasa, di sebuah televisi di Stasiun Seoul di Seoul, Korea Selatan, 01 Januari 2020

Foto: EPA
Nuklir taktis baru Pyongyang merupakan ancaman langsung bagi Seoul

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) harus fokus pada pengejaran senjata nuklir Korea Utara (Korut) yang konsisten. Cara ini dinilai sangat berguna daripada taktik diplomasi untuk mengulur waktu pengembangan senjatanya atau mengurangi tekanan internasional.

Pejabat intelijen nasional untuk Korea Utara di Dewan Intelijen Nasional, Sydney Seiler, berpendapat Korea Selatan harus menyadari bahwa senjata nuklir Korea Utara merupakan ancaman langsung ke Selatan. "Ada periode provokasi dan perilaku koersif, periode di mana kita melihat peluncuran rudal, uji coba nuklir, pertunjukan kekuatan konvensional," ujarnya pada Sabtu (23/1) dilansir Yonhap.

Seiler menilai kondisi tersebut kemudian membuat pergeseran periode keterlibatan diplomasi ke konsesi yang tepat, mengulur waktu untuk program, dan mengurangi tekanan. "Apa yang saya temukan dengan Korea Utara adalah kesinambungan strategis, ditandai dengan kejutan taktis," katanya dalam webinar yang diselenggarakan oleh lembaga think-tank Center for Strategic and International Studies yang berbasis di Washington.

Pejabat intelijen tersebut menunjukkan cara Korea Utara secara konsisten mengejar kemampuan asimetris selama lebih dari tiga dekade. Menurutnya, jenis provokasi dan jenis keterlibatan dapat berubah.

"Mereka memiliki koreografi yang baik untuk memaksimalkan efek, tetapi pada akhirnya, pengejaran tujuan ini telah konsisten selama beberapa dekade ini," kata Seiler.

Seiler menjelaskan setiap keterlibatan dalam diplomasi telah dirancang untuk mendorong lebih jauh tentang program nuklir, bukan untuk menemukan jalan keluar dari program nuklir. Padahal penting untuk peningkatan hubungan yang berkelanjutan baik dengan AS atau Korea Selatan.

Korea Utara sejauh ini telah menyetujui atau menandatangani setidaknya delapan kesepakatan denuklirisasi. Kesepakatan terbaru dicapai oleh Kim Jong-un dalam pertemuan puncak bilateral pertamanya dengan mantan presiden AS Donald Trump di Singapura pada Juni 2018.

Negara tersebut belum menyatakan deklarasi Singapura batal. Akan tetapi Kim telah menjelaskan negaranya akan terus mengembangkan dan memperluas kemampuan nuklirnya. Pada kongres Partai Buruh beberapa waktu lalu, Kim mengatakan negaranya telah berhasil mengembangkan senjata nuklir taktis dan diluncurkan dari kapal selam.

Seiler mencatat senjata nuklir taktis baru Pyongyang merupakan ancaman langsung bagi Seoul. "Seharusnya jelas bagi semua orang pada peluncuran 2019, pada 2020 bahwa kami melihat Korea Utara bergeser dalam penekanan," katanya merujuk pada serangkaian peluncuran rudal jarak pendek dan menengah yang dilakukan oleh Korea Utara selama dua tahun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA