Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

136 Bencana Terjadi Sejak Januari, Banjir Paling Banyak

Rabu 20 Jan 2021 07:57 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Dwi Murdaningsih

Warga Puncak dikejutkan banjir bandang di Sungai Cisampay yang melanda Komplek Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Selasa (19/1).

Warga Puncak dikejutkan banjir bandang di Sungai Cisampay yang melanda Komplek Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Selasa (19/1).

Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Bencana banjir paling banyak terjadi, mencapai 95 kejadian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menekankan pentingnya implementasi pengurangan resiko bencana alam yang wajib menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 136 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang 1-16 Januari 2021.

Bencana banjir paling banyak terjadi, mencapai 95 kejadian. Bencana lainnya adalah tanah longsor yang terhitung sudah 25 kali terjadi, puting beliung telah terjadi sebanyak 12 kali, serta dua peristiwa gempa bumi. Peristiwa bencana tersebut telah mengakibatkan ratusan jiwa menjadi korban.

Kepala Pusat Penelitian Teknologi LIPI Eko Yulianto mengatakan bencana-bencana ini seperti arisan, karena bencana alam seperti gempa bumi, longsor, banjir, dan sebagainya bisa terjadi di wilayah mana saja di Indonesia. "Seluruh wilayah Indonesia dipenuhi retakan-retakan akibat tektonik itu yang notabene menjadi sumber gempa," kata Eko, dalam keterangannya, Selasa (19/1).

Eko menegaskan, perulangan gempa relatif lama misalnya 50 tahun atau bahkan lebih sehingga orang-orang mudah melupakannya. Itulah pentingnya edukasi terus menerus mengenai mitigasi bencana.

Hal lain yang ia soroti adalah aspek bangunan yang aman atau tahan gempa. Sering kali sebuah rumah dibangun hanya memperhatikan aspek estetikanya saja tanpa melibatkan faktor-faktor kebencanaan seperti ketahanan akan guncangan.

Sementara membangun ulang rumah atau memperkuat bangunan yang sudah ada bisa membutuhkan biaya mahal. Eko juga mendorong masyarakat untuk memiliki satu ruang aman yang bisa digunakan sebagai tempat berlindung tatkala gempa terjadi.

Mengenai bencana hidrologi, Indonesia akan mengalami puncak musim hujan pada Januari dan Februari. Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Iwan Ridwansyah mengatakan, masyarakat perlu menambah kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi.

"Bencana banjir di Kalimantan Selatan telah mengakibatkan 27.111 rumah terendam dan 112.709 warga mengungsi di 7 kabupaten/Kota, sementara di Kabupaten Sumedang terjadi tanah longsor di Desa Cihanjunag Kecamatan Cimanggung," kata Iwan.

Ia menegaskan, bencana hidroklimatologi juga mengakibatkan banjir bandang dan cuaca buruk lainnya. "Untuk mengurangi dampak bencana di masa depan, perencanaan tata ruang Kabupaten/kota yang berada pada potensi bencana tinggi harus didesain ulang berdasarkan analisis ilmiah berbasis kebencanaan," kata dia lagi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA