Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Kemenangan Bagi Muslimah, Belgia Cabut Larangan Jilbab

Rabu 20 Jan 2021 05:30 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah

Kemenangan Bagi Muslimah, Belgia Cabut Larangan Jilbab. Muslimah Belgia.

Kemenangan Bagi Muslimah, Belgia Cabut Larangan Jilbab. Muslimah Belgia.

Foto: AP
9 dari 10 korban Islamofobia di Belgia adalah perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Simbol agama termasuk jilbab akan diizinkan digunakan di universitas mulai September 2021 di Wallonia, wilayah Belgia yang berbahasa Prancis. Keputusan tersebut diumumkan oleh pejabat setempat dalam kemenangan anti-Islamofobia dan kelompok wanita Muslim.

Para wanita Muslim mengaku perlu adanya langkah lebih lanjut untuk mewujudkan pencabutan larangan serupa di seluruh institusi dan tempat kerja. “Keputusan ini sangat penting dan akan berdampak pada banyak wanita. Ini akan memengaruhi keputusan mereka untuk melanjutkan studi, menjadi bagian masyarakat yang normal, mandiri secara finansial, dan mengikuti impian mereka,” kata aktivis yang telah memerangi Islamofobia di Belgia, Fatima Zahra Younsi.

Hingga saat ini, Belgia telah melarang simbol agama, termasuk jilbab yang dikenakan oleh wanita Muslim dalam praktik keagamaannya. Administrator Umum Wallonia-Brussel Education (WBE), Julien Nicaise mengatakan prinsip tersebut diubah atas emansipasi dan perang melawan kesetaraan. WBE adalah lembaga yang mengelola publik berbahasa Prancis di Sekolah.

Baca Juga

“Kepentingan umum harus didahulukan. Kita tidak bisa lagi menolak para wanita muda ini dengan dalih mereka memakai kerudung bisa mencegah mereka untuk belajar. Ijazah adalah paspor mereka untuk dimasukkan melalui pekerjaan,” kata Nicaise.

Pengumuman itu muncul setelah bertahun-tahun kampanye anti-Islamofobia dan kelompok hak wanita Muslim di Belgia. “Saya pikir ini adalah keputusan politik, karena kami benar-benar melakukan banyak demonstrasi. Ini juga merupakan keputusan sosial karena semakin banyak Muslim di Belgia yang memakai jilbab,” ujar dia.

Younsi adalah salah satu pendiri Collectif les 100 diplômées (100 Lulusan Kolektif), sebuah LSM yang mendukung para profesional muda yang mengenakan jilbab dan menghadapi diskriminasi. Dia mengatakan kepada TRT World, organisasinya telah melobi untuk pencabutan larangan jilbab di sekolah dan juga melacak insiden pelarangan jilbab di tempat kerja dan lembaga publik di seluruh Belgia.

Belgia tidak menyimpan catatan demografis resmi berdasarkan agama, namun diperkirakan dari populasi hampir 11,5 juta, lebih dari 850 ribu adalah Muslim.

Tidak semua wanita Muslim di Belgia mengenakan jilbab. Meski begitu, keputusan baru ini berpotensi memengaruhi sejumlah besar wanita yang sebelumnya terbatas dalam studi dan kesempatan kerja. Keputusan pencabutan larangan mengenakan jilbab diambil berdasarkan konsensus dalam dewan direksi WBE yang memiliki perwakilan dari semua partai politik.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA