Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Khawatir Covid, Jerman akan Perketat Aturan Kerja di Rumah

Selasa 19 Jan 2021 20:34 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)

Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)

Foto: EPA/CDC
Infeksi virus Covid-19 di Jerman telah menurun dalam beberapa hari terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Kanselir Jerman Angela Merkel kemungkinan akan setuju dengan para pemimpin di daerah untuk memperketat aturan bekerja dari rumah. Langkah-langkah ini diperlukan untuk mengendalikan infeksi virus Corona.

Infeksi baru telah menurun dalam beberapa hari terakhir dan tekanan pada unit perawatan intensif telah sedikit berkurang. Namun para ahli virologi khawatir tentang kemungkinan penyebaran varian virus yang lebih menular.

"Jumlah infeksi telah turun selama beberapa minggu atau stagnan dan itu bagus. Sekarang kita menghadapi mutasi yang sangat agresif yang harus kita hadapi," kata Wali Kota Berlin Michael Mueller kepada televisi Jerman, Selasa.

Para pemimpin nasional dan daerah bertemu pada Selasa untuk memutuskan memperpanjang masa pembatasan kegiatan publik, termasuk menutup sebagian besar toko dan sekolah. Mueller mengatakan bahwa jam malam, yang sudah diberlakukan di negara-negara bagian termasuk Bavaria selatan dan Baden-Wuerttemberg, akan dibahas tetapi tidak mungkin diberlakukan di mana-mana.

"(Menyangkut jam malam) negara bagian ingin memutuskan berdasarkan jumlah infeksi di masing-masing negara bagian," katanya.

"Fokusnya adalah meningkatkan kerja dari rumah. Ada beberapa tempat produksi di mana pekerja harus hadir tetapi ada lebih banyak ruang untuk bermanuver," kata Mueller.

Para pemimpin nasional dan daerah juga mendiskusikan pemakaian wajib masker di toko-toko dan transportasi umum. Jumlah infeksi virus Corona di Jerman meningkat 11.369 kasus menjadi 2,05 juta kasus pada Selasa. Laporan itu berdasarkan catatan Robert Koch Institute (RKI) untuk penyakit menular. Jumlah korban jiwa bertambah 989 orang menjadi 47.622.

sumber : Reuters/antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA