Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Ada Lagi Aplikasi Sholat Diduga Jual Data Lokasi Pengguna

Selasa 12 Jan 2021 18:05 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah

Ada Lagi Aplikasi Sholat Diduga Jual Data Lokasi Pengguna. Aplikasi Slaat First yang disebut menjual data lokasi pengguna.

Ada Lagi Aplikasi Sholat Diduga Jual Data Lokasi Pengguna. Aplikasi Slaat First yang disebut menjual data lokasi pengguna.

Foto: MEE/Faisal Edroos
Aplikasi tersebut telah diunduh lebih dari 10 juta kali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah Muslim Pro, aplikasi sholat Muslim populer lainnya dituduh menjual data lokasi pengguna ke perusahaan teknologi yang memiliki hubungan dengan militer Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, aplikasi sholat Muslim yang berasal dari Singapura, Muslim Pro, dituduh menjual data pribadi penggunanya kepada militer AS.

Situs teknologi Vice's Motherboard melaporkan pada Senin (11/1), aplikasi sholat Salaat First menjual data lokasi pengguna ke Predicio, sebuah perusahaan Prancis yang sebelumnya merupakan bagian dari rantai pasokan data kompleks yang melibatkan kontraktor pemerintah AS yang bekerja dengan FBI, ICE, dan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai.

Baca Juga

Motherboard melaporkan, Predicio memperoleh kumpulan data besar dari pergerakan pengguna aplikasi yang akurat dari sebuah sumber. Sumber itu dikatakan prihatin karena informasi sensitif semacam itu berpotensi melacak Muslim yang menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Data tersebut dapat disalahgunakan oleh mereka yang membeli dan memanfaatkan data tersebut.

"Dilacak sepanjang hari memberikan banyak informasi, dan seharusnya tidak dapat digunakan melawan Anda, terutama jika Anda tidak menyadarinya," kata sumber itu, dilansir di Middle East Eye, Selasa (12/1).

Menurut situs teknologi tersebut, Salaat First ditemukan telah menjual data pengguna di Android. Aplikasi tersebut telah diunduh lebih dari 10 juta kali.

Pengembang aplikasi tersebut, Hicham Boushaba, tidak menanggapi permintaan komentar dari Middle East Eye. Namun, ia mengatakan kepada Motherboard bahwa pengumpulan data hanya dimulai jika aplikasi tersebut diunduh di Inggris, Jerman, Prancis, atau Italia.

Boushaba mengonfirmasi aplikasi tersebut mengirimkan data lokasi pengguna ke Predicio. Akan tetapi, dia menyebut telah memutuskan mengakhiri perjanjian pada 6 Desember 2020 menyusul skandal yang melibatkan aplikasi ibadah Muslim populer, Muslim Pro.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA