Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Edukasi Isolasi Mandiri Pasien tanpa Gejala Harus Ditambah

Selasa 12 Jan 2021 09:25 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi Covid-19. Sosialisasi dan edukasi terkait isolasi mandiri bagi pasien Covid-19 tanpa gejala perlu ditingkatkan.

Ilustrasi Covid-19. Sosialisasi dan edukasi terkait isolasi mandiri bagi pasien Covid-19 tanpa gejala perlu ditingkatkan.

Foto: Pixabay
Perlu ada komunikasi yang efektif untuk mengubah perilaku masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Jawa Barat (Jabar) Daud Achmad menilai sosialisasi dan edukasi terkait isolasi mandiri bagi pasien Covid-19 tanpa gejala perlu ditingkatkan.

Daud mengatakan, hal itu bertujuan agar tempat tidur rumah sakit rujukan Covid-19 dan pusat isolasi nonrumah sakit digunakan oleh pasien Covid-19 dengan gejala. Dasar pemikiran pembuatan pusat isolasi di daerah itu adalah karena disinyalir yang melakukan isolasi mandiri tidak disiplin.

Baca Juga

"Ini wajar karena dilakukan mandiri di rumah dan tidak ada yang mengawasi. Tampaknya perlu sosialisasi tentang isolasi mandiri yang bisa dilakukan oleh masyarakat," ujar Daud, dalam siaran persnya, Selasa (12/1).

Menurutnya, perlu ada komunikasi yang efektif untuk mengubah perilaku masyarakat. "Sebaiknya sosialisasikan ini disatukan dengan penegakan aturan supaya masyarakat patuh," katanya.

Pernyataan senada diucapkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Ahyani. Menurutnya, pasien Covid-19 tanpa gejala yang menjalani isolasi mandiri harus mendapat pendampingan dan dukungan, terutama dari masyarakat sekitar.

"Ini harus didampingi supaya masyarakat terpapar (Covid-19) menjadi bisa dan berani menghadapi penyakitnya. Kita libatkan semua potensi masyarakat sesuai dengan kemampuannya. Ini pernah dicoba di daerah saya dan berhasil," katanya.

Ahyani mengatakan, sosialisasi dan edukasi isolasi mandiri perlu ditingkatkan. Selain untuk mengatasi tingkat keterisian rumah sakit rujukan Covid-19, kepatuhan masyarakat terapkan protokol kesehatan pun mulai mengendur.

"Setiap liburan panjang, selalu terjadi peningkatan pasien. Saat ini warga juga mulai abai terhadap risiko penularan. ini terlihat dari adanya aktivitas sosial seperti hajatan, perjalanan antardaerah yang kembali meningkat, dan juga kumpul-kumpul warga," katanya.

"Kita harus melakukan komunikasi dengan warga tentang protokol keseahatan secara masif supaya mereka paham bahwa pandemi belum berakhir," tambahnya.

Praktisi kesehatan dari Yayasan Wanadri dr. Tri Wahyu Murni mengatakan, isolasi mandiri dapat menjadi salah satu jawaban atas keterisian rumah sakit rujukan Covid-19 yang terus meningkat. Ia juga menekankan bahwa pendampingan perlu dilakukan saat pasien Covid-19 menjalani isolasi mandiri.

"Mau tidak mau harus menggerakkan masyarakat untuk isolasi mandiri. Tapi jangan dilepas, perlu pendampingan," kata Tri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA