Kamis 07 Jan 2021 12:59 WIB

Obama: Kerusuhan di Capitol Hill Momen yang Memalukan

Sejarah akan mengingat kekerasan di Capitol Hill sebagai momen memalukan bagi AS

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih
 Petugas Kepolisian Capitol AS mendorong kembali demonstran yang mencoba masuk ke Capitol AS pada hari Rabu, 6 Januari 2021, di Washington.
Foto: AP/Jose Luis Magana/FR159526 AP
Petugas Kepolisian Capitol AS mendorong kembali demonstran yang mencoba masuk ke Capitol AS pada hari Rabu, 6 Januari 2021, di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON -- Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengatakan sejarah akan mengingat kekerasan di Capitol Hill sebagai momen memalukan bagi AS. Obama mengatakan kekerasan 'dipicu presiden berkuasa' yang berbohong tanpa dasar mengenai hasil pemilihan presiden.

Donald Trump menyakinkan pendukungnya kekalahannya dari Presiden terpilih Joe Biden karena Partai Demokrat curang. Pendukung Trump yang marah menyerbu Gedung Kongres dalam unjuk rasa yang bertujuan mencegah perpindahan kekuasaan yang damai.

Baca Juga

Obama mengatakan ia seharusnya tidak terkejut dengan kerusuhan ini. Tanpa menyebutkan Partai Republik, Obama mengatakan dua bulan terakhir sebuah partai politik menolak untuk menyampaikan kebenaran pada pendukungnya.  

"Selama dua bulan terakhir sebuah partai politik dan ekosistem media yang menyertainya telah terlalu sering tidak bersedia memberitahu kebenaran pada pendukungnya," kata Obama, Kamis (7/1).

"Narasi fantasi mereka telah semakin menjauh dari kenyataan yang sebenarnya dan hal itu dibangun dari kebencian selama bertahun-tahun, sekarang kami melihat konsekuensinya, menjadi kekerasan yang semakin keras," tambahnya.

Senat melanjutkan perdebatan untuk meresmikan kemenangan Joe Biden enam jam setelah pendukung Trump menerobos masuk dan merusak Gedung Kongres, memaksa sejumlah anggota Kongres melarikan diri. Partai Republik menentang hasil pemilu.

Sejumlah perwakilan dan 13 Senator Partai Republik berencana mengajukan keberatan atas hasil penghitungan suara elektoral enam negara bagian yang dimenangkan Biden. Belum diketahui apakah langkah tersebut dapat melanjutkan kekerasan yang terjadi di Washington.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement