Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Analisis LAPAN Soal Temuan Puing Roket Bertuliskan CNSA

Rabu 06 Jan 2021 14:47 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Analisis orbit sampah antariksa mengenai temuan puing bertuliskan CNSA.

Analisis orbit sampah antariksa mengenai temuan puing bertuliskan CNSA.

Foto: istimewa
Puing diduga merupakan sampah antariksa yang berasosiasi dengan Roket Long March.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan Objek puing bertuliskan CNSA diduga bagian dari roket Long March -3B. Menurut analisis orbit sampah antariksa, puing itu adalah bagian roket CZ-3B (Long March -3B) dengan nomor katalog  44710.

"Roket digunakan untuk peluncuran satelit navigasi Beidou 3-IGSO-3 pada 4 November 2019. Perkiraan jatuh 4 Januari 2021 pukul 14.25 WIB di Selatan Kalimantan dari ketinggian 118 km," kata Thomas melalui pesan aplikasi, kepada Republika.co.id.

Baca Juga

Melalui laman website Lapan.go.id, LAPAN menerima laporan benda buatan yang jatuh di Teluk Kramat, Kalimantan Tengah pada Selasa (5/1). Benda yang diketahui berukuran sekitar 3 x 4 meter, jatuh sehari sebelumnya dan diduga merupakan sampah antariksa yang berasosiasi dengan Roket Chang Zheng (Long March) milik China.

photo
Satelit navigasi BeiDou-3 dikirim pada 23 Juni 2020 di Xichang, Sichuan, China. - (EPA)
Roket Chang Zheng diketahui digunakan untuk meluncurkan satelit Beidou 3-IGSO 3 pada 4 November 2019. Berdasarkan sistem pemantauan orbit.sains.lapan.go.id pada 4 Januari lalu, terdeteksi empat objek yang melintas di atas wilayah Indonesia dengan ketinggian rendah.

Objek CZ-3B R/B yang memiliki nomor katalog NORAD 44710 merupakan objek dengan orbit lonjong yang mencapai ketinggian minimum (perigee) sekitar 121 kilometer di atas permukaan Bumi, sementara ketinggian maksimumnya hampir 11.500 kilometer. Model peluruhan orbit yang diadopsi memperkirakan bahwa bekas roket tersebut akan mengalami reentry dalam waktu dekat, yakni pada Maret mendatang.

Dengan input yang sedikit berbeda, model peluruhan tadi sempat memberikan prediksi reentry pada 4 Januari. Simpangan waktu prediksi reentry tersebut wajar terjadi, terlebih untuk objek yang memiliki orbit lonjong.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA