Sunday, 28 Syawwal 1443 / 29 May 2022

Makam Peringatan Sultan Seljuk Tengah Direstorasi

Rabu 06 Jan 2021 04:58 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Muhammad Hafil

 Makam Peringatan Sultan Seljuk Tengah Direstorasi. Foto: Suasana masyarakat  masa kesultanan Seljuk.

Makam Peringatan Sultan Seljuk Tengah Direstorasi. Foto: Suasana masyarakat masa kesultanan Seljuk.

Foto: pinterest
Makam Sultan Seljuk direstorasi.

REPUBLIKA.CO.ID, KONYA – Pemulihan sandukas Sultan Seljuk Anatolia, sejenis makam peringatan yang ditempatkan di atas kuburan asli orang-orang terkemuka dalam tradisi Islam-Turki di Masjid Alaeddin telah dimulai. Masjid tersebut terletak di provinsi Konya, bagian Turki tengah. Pekerjaan restorasi yang dilakukan adalah pembuatan makam peringatan dan mihrab masjid ke keadaan semula.

Pembangunan Masjid Alaeddin dimulai di bukit Alaeddin pada masa Anatolia Seljuk Sultan Mesud I. Bentuk akhirnya sangat mirip dengan tampilan masjid saat ini dan dibuka untuk ibadah pada masa Kayqubad I.

Baca Juga

Halaman masjid diisi makam para penguasa Seljuk yang melakukan pengorbanan besar untuk menjadikan Anatolia, termasuk Mesud I, Kilij Arslan II, Suleiman II, Kaykhusraw I, Kayqubad I, Kaykhusraw II, Kilij Arslan IV, dan Kaykhusraw III.

Mihrab Masjid Alaeddin yang dikenal sebagai "Masjid Takhta" dan ubin di makam peringatan delapan penguasa Seljuk Anatolia di halamannya sedang direstorasi sekarang. Makam mihrab dibuat dengan teknik ubin mosaik yang sering digunakan oleh Dinasti Seljuk.

Direktur Regional Yayasan Konya, Nurullah Osmanlı mengatakan kepada Anadolu Agency (AA) Masjid Alaeddin dan Kümbet, mausoleum berbentuk kubah dari arsitektur Seljuk di halamannya direstorasi oleh Direktorat Jenderal Yayasan antara tahun 2014 dan 2019. Sekarang sudah saatnya makam peringatan sultan di Kümbet dan mihrab yang akan dipulihkan. Mereka menerapkan teknik ubin yang digunakan sekitar 800 tahun lalu untuk restorasi.

“Saat memulihkan delapan makam, kami juga akan menambahkan ubin pada daerah yang kehilangan ubinnya,” kata Osmanlı, dilansir Daily Sabah, Rabu (6/1).

Yang terpenting kata dia adalah membuat membuat ulang ubin seperti yang telah dibuat oleh nenek moyang pada 800 tahun lalu. Tim restorasi akan menerapkan metode dari nenek moyang sampai saat ini. Termasuk pada pembuatan pola ubin mosaik yang bukan dengan menggambar melainkan menggabungkan bagian-bagiannya.

“Ini adalah metode yang sangat menuntut. Teknik ini mencoba untuk membuat bentuk utama dengan menempelkan masing-masing bagian ke infrastruktur. Dalam restorasi akan kami terapkan,” ujar dia.

Osmanli mencatat bahwa masjid tersebut terbuka baik untuk ibadah maupun untuk pengunjung. Pekerjaan restorasi ini akan membuat sebagian wilayah masjid ditutup. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA