Monday, 10 Muharram 1444 / 08 August 2022

Muslim Kini Hadapi Turkofobia, Apa Itu?

Selasa 05 Jan 2021 10:10 WIB

Rep: Anadolu/Sabah Daily/ Red: Elba Damhuri

Sekelompok wanita berunjuk rasa di Prancis menuntut dihentikannya Islamofobia. Sekjen PBB Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya Islamofobia. Ilustrasi.

Sekelompok wanita berunjuk rasa di Prancis menuntut dihentikannya Islamofobia. Sekjen PBB Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya Islamofobia. Ilustrasi.

Foto: Christophe Petit/EPA
Di beberapa negara Eropa, selain Islamofobia, kaum Muslim juga menghadapi Turkofobia

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Salah satu isu utama sepanjang 2020 adalah makin kuatnya sikap Islamofobia di sejumlah negara termasuk di benua Eropa.

Sejumlah catatan menunjukkan sikap anti-Islam dan serangan terhadap komunitas serta rumah ibadah Muslim meningkat.

Kini, khususnya di beberapa negara di Eropa, selain Islamofobia, kaum Muslim dari Turki juga menghadapi ancaman Turkofobia.

Komunitas Turki di Eropa prihatin dengan tren meningkatnya Islamofobia dan Turkofobia di negara-negara Barat. Mereka pun menyerukan negara-negara Eropa untuk meningkatkan tindakan terhadap kejahatan rasial ini.

Kemal Ergün, Ketua Visi Nasional Komunitas Islam (IGMG), yang berbasis di Koln, Jerman, mengatakan pada 2020 saja telah terjadi 122 serangan terhadap masjid di Jerman. 

"Belum lagi banyaknya jumlah surat mengancam dan menghina Islam dikirim kepada kaum Muslim," kata Ergun seperti dikutip Daily Sabah Turki.

Ergün mencatat antara 2014 dan 2020 telah terjadi lebih dari 700 serangan ke masjid di Jerman. Ia menekankan perlunya menangkap para penyerang masjid ini segera.

"Beberapa masjid diserang berulang kali. Di beberapa masjid, tingkat kekerasan lebih tinggi dengan tindakan seperti pembakaran yang dapat merugikan orang, sementara di masjid lain, dinding masjid digunakan sebagai kanvas untuk menuliskan penghinaan dan ancaman," kata Ergün seperti dikutip oleh Anadolu Agency (AA).

Ergün juga menyebut dampak serangan teroris di Eropa sebagai faktor pemicu rasisme anti-Muslim di benua itu.

Sayangnya, kelompok sayap kanan, setelah serangan teroris yang diklaim dilakukan atas nama Islam, semakin memperkuat sikap anti-Muslim mereka. Yang paling terpengaruh oleh suasana ini adalah, secara individu, perempuan Muslim dan, secara kelembagaan, masjid.

Jerman telah mencatat kejahatan Islamofobia secara terpisah sejak 2017. Pada 2018, terdapat 910 insiden, termasuk 48 serangan terhadap masjid saja, sedikit lebih rendah dibandingkan pada 2017 dengan 1.095 kejahatan. 

Pada 2019, sekitar 871 serangan menargetkan komunitas Muslim di Jerman, sementara data tahun 2020 belum diumumkan. Setiap hari sepanjang tahun 2019, masjid, lembaga Muslim, atau perwakilan agama di Jerman menjadi sasaran serangan anti-Muslim. 

Lebih dari 90% di antaranya dikaitkan dengan kejahatan bermotif politik oleh sayap kanan.

Ergün menyatakan pejabat IGMG telah menuntut penyelidikan yang lebih efektif oleh pasukan keamanan terhadap serangan ini dan diakhirinya serangan masjid.

“Sejauh ini, kami menyaksikan aparat keamanan telah melakukan investigasi detail terhadap serangan masjid. Namun, sayangnya, setiap penyerang yang tidak bisa ditangkap terus berjalan bebas sebagai ancaman masyarakat," kata dia.

Ergun melanjutkan saat ini ada penyerang yang memecahkan jendela masjid dan entah bagaimana caranya. Ia juga dapat berjalan dengan bebas selama berbulan-bulan sehingga bisa meningkatkan tingkat kekerasan lebih jauh lagi.

 

Jerman adalah rumah bagi 81 juta orang dan populasi Muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis tinggal di sana. Dari hampir 4,7 juta Muslim di negara itu, setidaknya 3 juta berasal dari Turki.

sumber : Anadolu/Daily Sabah
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA