Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Orang yang Menikah Cenderung tidak Mudah Stres, Benarkah?

Selasa 05 Jan 2021 06:09 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Studi mengungkap salah satu keuntungan dari keputusan menikah (Foto: ilustrasi)

Studi mengungkap salah satu keuntungan dari keputusan menikah (Foto: ilustrasi)

Foto: independent
Studi mengungkap salah satu keuntungan dari keputusan menikah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dengan berbagai perdebatan soal perlu atau tidaknya menikah, sebuah studi mengungkap salah satu keuntungan dari keputusan menikah. Menurut riset itu, orang yang menikah memiliki tingkat stres lebih rendah.

Tingkatan stres tersebut apabila dibandingkan antara orang yang menikah dengan yang lajang, bercerai, atau menjanda. Studi digagas oleh tim dari Universitas Carnegie Mellon di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Para peneliti mendapatkan hasil tersebut setelah menganalisis 572 orang dewasa dalam rentang usia 21 sampai 55 tahun. Secara berkala, tim mengambil sampel air liur peserta dan menguji kadar kortisol untuk pengukuran tingkat stres.

Secara keseluruhan, orang yang menikah memiliki kadar kortisol yang lebih rendah dalam air liurnya. Orang yang menikah mengalami penurunan kadar kortisol lebih cepat di waktu tertentu, sedangkan level pada lajang tetap lebih tinggi sepanjang hari.
 
"Data ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana hubungan sosial intim kita dapat mempengaruhi kesehatan," kata direktur laboratorium universitas sekaligus salah satu penulis studi, Sheldon Cohen.

Tingkat stres yang tinggi dalam tubuh datang dengan banyak konsekuensi negatif terhadap kesehatan. Artinya, melajang dalam jangka panjang dapat menyebabkan seseorang menghadapi lebih banyak tantangan kesehatan. Studi yang terbit di jurnal Psychoneuroendocrinology itu mendapat apresiasi positif dari kalangan akademisi.

"Sangat menarik bisa menemukan jalur fisiologis yang menjelaskan bagaimana hubungan memengaruhi kesehatan dan penyakit," kata Brian Chin dari Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Humaniora dan Ilmu Sosial Dietrich, dikutip dari laman Study Finds, Selasa (5/1).

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA