Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Positivity Rate Tinggi, Nakes dan Kapasitas RS Ditambah

Senin 04 Jan 2021 19:55 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas beristirahat di tempat isolasi pasien OTG Covid-19 di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Sabtu (26/12). Kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga Senin (4/1) telah menembus lebih dari total 700 ribu kasus sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret lalu dengan positivity rate di angka 20-an persen. (ilustrasi)

Petugas beristirahat di tempat isolasi pasien OTG Covid-19 di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Sabtu (26/12). Kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga Senin (4/1) telah menembus lebih dari total 700 ribu kasus sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret lalu dengan positivity rate di angka 20-an persen. (ilustrasi)

Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Tingginya positivity rate Covid-19 diperburuk dengan jebloknya kinerja testing.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Sapto Andika Candra, Rr Laeny Sulistyawati, Dessy Suciati Saputri

Angka penularan kasus Covid-19 di Indonesia masih tinggi. Hal ini terlihat dari positivity rate atau tingkat positif Covid-19 harian yang selalu di atas 20 persen dalam lima hari terakhir. Bahkan dalam dua pekan terakhir, tingkat positif harian tidak pernah dilaporkan di bawah 17 persen.

Baca Juga

Positivity rate ini menggambarkan jumlah temuan kasus positif dari satu komunitas yang dites. Pada Senin (4/1) ini dilaporkan angka positivity rate harian mencapai 22 persen. Angka ini memberi gambaran bahwa dari setiap lima orang yang dites dalam 24 jam terakhir, ada satu orang yang ketahuan positif Covid-19.

"Tingginya positivity rate tunjukkan masih tingginya penularan yang terjadi. Hal ini sangat berbahaya. Positivity rate yang tinggi hanya dapat ditekan melalui kepatuhan masyarakat terhadap prokes," ujar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, beberapa waktu lalu.

Masih tingginya positivity rate juga diperburuk dengan jebloknya kinerja pemeriksaan secara nasional. Sudah menjadi masalah sejak awal pandemi, kapasitas testing selalu anjlok saat hari libur, baik akhir pekan atau tanggal merah lainnya.

Jebloknya kapasitas pemeriksaan juga terjadi sepanjang libur akhir tahun 2020. Pada tanggal 1-3 Januari 2021 misalnya, jumlah orang yang diperiksa 'hanya' 24.000-27.000 orang per hari. Jumlah tersebut jauh di bawah kapasitas testing pada hari biasa yang selalu tembus 40.000 orang per hari.

Bahkan pada Sabtu (2/1) lalu, jumlah spesimen yang diperiksa hanya 33.530 spesimen dengan 24.379 orang diperiksa. Pada hari itu, ditemukan 7.203 kasus positif sehingga angka positivity rate meyentuh 29,5 persen. Artinya, 1 dari 3 orang yang dites dikonfirmasi positif Covid-19.

Pada hari ini, dilaporkan ada 6.753 kasus Covid-19 baru. Dari angka tersebut, DKI Jakarta masih mencatatkan penambahan kasus tertinggi yakni 1.832 orang. Jawa Barat berada di peringkat kedua dengan 1.079 kasus baru. Kemudian menyusul Jawa Tengah dengan 1.037 kasus, Jawa Timur dengan 709 kasus, dan Sulawesi Selatan dengan 510 kasus baru.

Selain itu, Satgas Penanganan Covid-19 juga merilis ada penambahan kasus sembuh sebanyak 7.166 orang pada hari ini. Sehingga angka kumulatif pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh mencapai 639.103 orang.

Pasien yang meninggal dunia juga dilaporkan bertambah 177 sepanjang 24 jam terakhir. Sehingga total kasus meninggal dunia akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 22.911 orang.

Seiring dengan jebloknya kapasitas testing dan tingginya positivity rate, Indonesia saat ini juga dibayangi oleh dampak libur natal dan tahun baru (nataru) selama periode 24 Desember 2020 hingga 1 Januari 2021. Lonjakan kasus usai libur dan cuti nataru bisa diketahui hingga 14 hari mendatang, asalkan kapasitas pemeriksaan spesimen ditingkatkan.

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Laura Navika Yamani menyarankan pemerintah mulai menggencarkan testing yang ditindaklanjuti dengan pelacakan kontak dekat (contact tracing).

Laura juga menyarankan jangkauan pelacakan yang lebih luas, yakni pemeriksaan yang tidak hanya dilakukan pada orang yang positif melainkan juga melacak hingga 30-50 orang orang yang pernah kontak dengan per satu pasien positif Covid-19. Dengan langkah itu, ia yakin positivity rate bisa ditekan.

"Jangan sampai yang diberitakan dari pemerintah bahwa kasus Covod-19 tidak naik namun tidak ada tambahan pemeriksaan atau malah justru menurun. Jadi, testing-nya memang harus ditingkatkan," katanya.

Jika kapasitas testing tidak ditambah, Laura khawatir orang-orang yang terinfeksi membawa virus tetapi tidak teridentifikasi. Padahal, Laura menegaskan pengendalian dari pandemi adalah 3T tes, telusur, dan tindak lanjut yang hanya bisa disiapkan pemerintah.

Pemerintah tidak bisa hanya meminta kontribusi masyarakat untuk melakukan protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun (3M).

"Selain masyarakat melakukan protokol kesehatan secara ketat, diharapkan sumber penularan semakin ditekan. Karena memutus mata rantai penularan virus ini bisa dicapai dengan 3T dan 3M," ujarnya.

Mengantisipasi lonjakan kasus baru Covid-19, pemerintah menargetkan menambah jumlah tenaga kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan hingga 10 ribu orang. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, dari 10 ribu tenaga kesehatan yang akan ditambah, sebanyak 7.900 orang di antaranya merupakan perawat di 141 fasilitas kesehatan.

“Kementerian Kesehatan akan menambah jumlah tenaga kesehatan, targetnya 10 ribu dengan terutama peningkatan perawat di sejumlah 7.900 orang dari 141 fasilitas kesehatan,” ujar Airlangga usai rapat terbatas terkait perkembangan penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (4/1).

Berdasarkan laporan dari Menteri Kesehatan, jumlah pasien Covid-19 per 3 Januari pun telah mencapai 110.679 orang. Meningkatnya jumlah kasus positif ini berdampak pada ketersediaan kapasitas tempat tidur di rumah sakit.

Karena itu, pemerintah juga akan menambah kapasitas tempat tidur untuk pasien Covid-19 di berbagai rumah sakit hingga 30 persen. Pemerintah akan bekerja sama dengan berbagai rumah sakit milik pemerintah untuk meningkatkan kapasitas perawatan pasien Covid-19.

“Pemerintah mendorong agar terjadi optimalisasi dari tempat tidur, baik di tingkat pemerintah, RSUD, dan RS swasta dengan target peningkatan kapasitas tempat tidur 30 persen,” ucapnya.

photo
Kelompok Prioritas Vaksinasi Covid-19 - (republika/mardiah)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA