Selasa 29 Dec 2020 20:34 WIB

Semangat Pantang Menyerah Perajin Tungku di Cianjur

Kehilangan pekerjaan akibat Covid-19, Heri pilih jadi pembuat tungku.

Rep: ayobandung.com/ Red: ayobandung.com

CIANJUR, AYOBANDUNG.COM -- Bulan lalu, Heri (30) warga Kampung Lebakhonje Desa Cibadak Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur kehilangan pekerjaanya. Pasalnya, perusahaan tempatnya bekerja mengurangi pegawai akibat pandemi Covid 19.

Satu bulan menganggur semenjak dikeluarkan dari perusahaanya membuat Heri frustasi. Sebab, dirinya harus memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk anak dan istrinya. Melamar pekerjaan bukan saat yang tepat, jangan menerima pekerja, saat ini saja banyak pemecatan.

Sempat berpikir akan mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta, tapi melihat pemberitaan di televisi banyak warga dari daerah pulang kampung lantaran Pemprov DKI memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Saya waktu itu bener-bener bingung, pandemi Covid 19 membuat semua orang susah. Sedangkan anak dan istri tetap harus makan,” terang Heri pada Ayobandung.com.

Tanpa sengaja, Heri bertemu temannya pengrajin pembuat tungku kompor di Kampung Ciluncat masih satu desa. Setelah melihat langsung sekaligus belajar membuat tungku terbuat dari tanah liat, dia langsung berpikir akan mencoba membuat tungku.

Di saat semangat untuk menbuat tungku, Heri terbentur dengan bahan baku tanah liat. Kalaupun ada harus membeli tanah liat, karena lahannya milik warga.

“Waktu itu tidak ada modal, kalau beli tanah liat juga tidak murah. Disitu saya memeras otak, bagaimana bisa membuat tungku tanpa harus mengeluarkan modal terlebih dahulu,” katanya.

Lagi-lagi Heri melihat ada sejumlah warga membuat tungku tanpa menggunakan tanah liat, tapi memanfaatkan lumpur Sungai Cikondang dicampur abu sekam.

Berbekal keingintahuan membuat tungku menggunakan bahan lumpur dan abu sekam, Heri belajar hingga akhirnya bisa membuat tungku sendiri.

“Kalau kita niat dan semangat, saya yang awalnya tidak tahu apa-apa, akhirnya tahu dan bisa,” tutur Heri saat ditemui di tempat penampungan tungku.

Akhirnya Heri mulai membuat tungku berbahan lumpur sungaii dan abu sekam, awalnya gagal karena bentuknya bukan lazimnya tungku.

Dijelaskannya, tidak sulit membuat tungku berbahan lumpur dan sekam, hambatannya saat turun hujan, karena tungku yang sudah dibuat harus dijemur di bawah terik matahari, sebelum dibakar.

“Tidak ada kendala sih dalam pembuatan tungku, hanya saja kalau musim hujan produksi tungku terhenti, karena sebelum dibakar harus dijemur dulu supaya kuat dan berkualitas,” jelasnya.

Kalau cuaca normal, dalam sebulan bisa membuat 20 hingga 30 tungku. Satu harga tungku dijual Rp50.000, dalam sebulan bisa mendapatkan Rp1.500.000.

Tapi Heri tidak menjual langsung ke pasar, dia masukan ke pengepul tingku di Kampung Ciluncat Desa Cibadak Kecamatan Cibeber.

“Alhamdulillah saat ini lancar saja pembuatan hingga penjualan, apalagi disaat ekonomi serba sulit, tungku kompor menjadi altentif menggantikan kompor gas,” tuturnya.

Apalagi permintaan tungku berbahan lumpur dan abu sekam ini semakin hari semakin meningkat, selama cuaca normal bisa terpenuhi pesanan dari luar kota.

“Di masa pandemi Covid 19 ini jangan pernah menyerah, kalau kita punya keinginan kuat, semuanya bisa dilakukan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga,” pungkasnya.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ayobandung.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ayobandung.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement