Thursday, 24 Ramadhan 1442 / 06 May 2021

Thursday, 24 Ramadhan 1442 / 06 May 2021

Misi Perdamaian Afghanistan

Selasa 29 Dec 2020 16:14 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla saat berkunjung ke Afghanistan.

Foto:
Indonesia bisa memainkan peran strategis perdamaian di Afghanistan sangatlah besar.

Peran Indonesia

Sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbesar dengan Wasatiyatul Islamnya, Indonesia sangat  diharapkan memainkan peran-peran penting untuk rekonsiliasi sekaligus menciptakan perdamaian di Afghanistan. Antusiasme yang ditunjukkan pemerintah Afghanistan, para ulama, aktivis perempuan dan pelaku bisnis Afghanistan selama kunjungan JK dan delegasi memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia memang sangat diharapkan. Kunjungan Presiden Jokowi ke Afghanistan yang kemudian dipuji oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga bagian penting langkah Indonesia membantu untuk perdamaian  Afghanistan.

JK nampak menjadi perhatian khusus bagi Afghanistan sehingga diundang oleh Presiden Afghanistan untuk diminta bantuannya menciptakan perdamaian. Tidak saja pernah menjadi wakil presiden RI, akan tetapi keberhasilannya menjadi peace negotiator untuk  konflik Ambon, Poso dan Aceh telah  menarik perhatian pemerintah Afghanistan. Pengalamannya akan sangat berharga untuk menghadirkan kelompok yang bertikai terutama Taliban, membangun dialog secara terbuka dan penuh kepercayaan, saling memberi dan menjaga untuk kepentingan masyarakat yang lebih besar.

Di samping itu, orientasi membangun kemasalahatan dan kerahmatan  dalam proses menciptakan perdamaian sangatlah penting. Karena itu, pendekatan yang dipilih dan ditawarkan dalam missi damai JK, hemat penulis ialah humanistik. 

Pendekatan humanistik perdamaian ini tidak sekedar menghentikan pertentangan dan peperangan, akan tetapi  menciptakan kehidupan bersama secara normal di mana kedaulatan dan martabat kehidupan setiap orang memperoleh perlindungan maksimal. Untuk itu, pendidikan harus ditransformasi dan ekonomi juga harus dipulihkan dan disehatkan sehingga setiap warga memperoleh hak-haknya secara adil. 

Melalui pembangunan dan modernisasi  bidang pendidikan, diharapkan akan lahir generasi baru Afghanistan yang tidak sekedar menguasai sains, teknologi dan seni, akan tetapi juga pandangan keagamaan yang lebih inklusif, wasathy, dan mendorong kemajuan. Diiringi dengan membangun ekonomi, maka tingkat keadilan dan kesejahteraan masarakat meningkat dan ekstimisme berhenti. Ekstrimisme dalam bentuk apa pun, antara lain dipicu oleh disparitas sosial ekonomi yang dibiarkan. Karena itu, kerja sama bidang pendidikan dan ekonomi Indonesia-Afghanistan sangatlah strategis dan perlu dilakukan sebagai strategi membangun perdamaian di Afghanistan.

Humanistic approach lain untuk perdamaian Afghanistan  ini ialah agama. Meskipun menganut madzhab Islam yang berbeda, akan tetapi kerja sama Muslim Indonesia-Afghanistan tetaplah terbuka lebar.

Perbedaan madzhab ini bukanlah problem dan hambatan. Perbedaan-perbedaan itu justru menjadi pintu masuk untuk memperkuat titik-titik persamaan sehingga menjadi energi kuat untuk mewujudkan perdamaian dan kerahmatan, termasuk di Afghanistan.

Berbenturan atau membenturkan perbedaan, justru akan memporakporandakan kehidupan. Madzhab Islam apapun haruslah bisa saling mengisi, saling belajar, saling berdampingan dan menghargai untuk kemaslahatan bersama.  

Tentu saja, membutuhkan kerjakeras (Ijtihad) secara bersama-sama antara lain untuk membangun sebuah kepemimpinan politik yang bisa dipercaya semua pihak dengan membuktikan prinsip dan nilai-nilai Islam terimplementasi dengan baik misalnya dalam menyelenggarakan pemerintahan atau  mengelola negara, mengatur ekonomi supaya berkeadilan, menegakkan hukum dan HAM secara adil atau tidak diskrimintif.

Afghanistan bersedia menimba pengalaman Indonesia dan karena itu kerja sama yang diarahkan untuk memperkuat pandangan dan kehidupan keagamaan Wasotiyah sangatlah urgent. Dialog dan kerja sama bidang ini sangat terbuka antara lain karena umat Islam melalui para Ulama berperan penting menumbuhkan nasionalisme Indonesia, mewujudkan kemerdekaan, mendirikan negara RI dan merumuskan dasar negara.

Kehadiran dan peran ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah dan NU dalam bidang sosial, pendidikan, kemanusiaan juga menjadi modal penting bagi kerja sama ini. Karena itu berbagai skema scholarship untuk anak-anak muda Afghanistan yang belajar di berbagai lembaga pendidikan yang dikola oleh umat Islam sangat perlu dilakukan.

Hal lain yang menjadi perhatian penting adalah kenyataan umat Islam adalah penduduk terbesar di Indonesia, akan tetapi karena toleransi (tasamuh)-nya dan komitmen besarnya untuk menjaga ”perjanjian atau gentlemen agreement” (al-Ahdu atau al-Mitsaq) maka Indonesia tegak sebagai Negara Pancasila, bukan Negara Islam. Dengan Pancasila, Indonesia sebagai bangsa besar dan majemuk menaungi berbagai perbedaan suku, bahasa dan bahkan agama. Kesamaan dan kesederajatan posisi agama-agama dilindungi secara hukum dan ini  menjadi kekuatan bagi integrasi bangsa. 

Pendekatan inilah yang ditawarkan JK selama dalam lawatan misi perdamaian di Afghanistan dan disambut dengan antusias. Pihak Afghanistan sangat konfiden bahwa Indonesia (melalui peran-peran organisasi civil society muslim) adalah mitra yang tepat untuk menyelesaikan berbagai kemelut yang telah terjadi cukup panjang sembari menatap dan  membangun era baru Afghanistan yang damai. Melalui pendekatan ini, misi JK ke Kabul di samping membantu untuk resolusi konflik, juga membuka ruang kerja sama bidang ekonomi dan pendidikan secara lebih luas.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA