Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Prinsip Wisata Halal Sejalan dengan Megatren Wisata Global

Kamis 24 Dec 2020 17:52 WIB

Red: Elba Damhuri

 Destinasi wisata halal di Sumatera Selatan (Sumsel) Bait Alquran atau Alquran Akbar yang berupa mushaf Alquran terbuat dari lembaran kayu setinggi 2 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter. Berwarna dasar coklat dengan tulisan timbul berwarna emas.

Destinasi wisata halal di Sumatera Selatan (Sumsel) Bait Alquran atau Alquran Akbar yang berupa mushaf Alquran terbuat dari lembaran kayu setinggi 2 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter. Berwarna dasar coklat dengan tulisan timbul berwarna emas.

Foto: Republika/Maspril Aries
Industri wisata memasuki normal baru dengan karakteristik sejalan dengan wisata halal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri pariwisata global mengalami pukulan sangat telak akibat pandemi covid-19. Kini, di tengah kabar gembira siap digunakannya vaksin, industri wisata memasuki era normal baru dengan karakteristik yang sejalan dengan prinsip wisata halal.

Menurut Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Riyanto Sofyan, era pandemi membentuk megatren pariwisata global dengan karakteristik untuk lebih memanusiakan manusia.

"Jadi, megatren wisata global itu peduli lingkungan, wisata agar manusia sehat, bukan sebaliknya, merusak tubuh, dan kembali kepada keluarga," kata Riyanto dalam penjelasan persnya, Kamis (24/12).

photo
Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia Riyanto Sofyan memberikan sambutan pada acara Indonesia Halal Tourism Conference dalam rangkaian kegiatan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 di JCC, Senayan, Jumat (15/11). - (Republika/Prayogi)
 

Bagi wisata halal, pemilik Hotel Sofyan ini menjelaskan, megatren wisata global ini sejalan. Wisata halal memiliki pijakan menjaga tata krama, mengutamakan kesehatan, peduli lingkungan, mengangkat local wisdom, hingga menjalankan pariwisata yang berkesinambungan.

Dua sudut pandang wisata ini semakin saling terintegrasi dan mendukung satu sama lain. Di satu sisi, pariwisata yang mainstream, kata Riyanto, bisa berjalan beriringan dengan wisata halal atau wisata ramah Muslim.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA