Rabu 23 Dec 2020 05:55 WIB

DPRD DKI: Pemulihan Ekonomi Tercapai Jika Menyentuh UMKM

Jika dana digunakan UMKM dan sektor informal, ekonomi Jakarta tumbuh lebih tinggi

Rep: Flori Sidebang/ Red: Hiru Muhammad
Pedagang berjualan di trotoar kawasan Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (1/9/2020). Pemprov DKI Jakarta berencana memfasilitasi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa berjualan di trotoar sejumlah jalan di Ibu Kota.
Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan
Pedagang berjualan di trotoar kawasan Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (1/9/2020). Pemprov DKI Jakarta berencana memfasilitasi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa berjualan di trotoar sejumlah jalan di Ibu Kota.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak menilai, proyeksi pertumbuhan ekonomi Ibu Kota tahun 2021 sebesar 5-5,4 persen merupakan hal yang wajar. Namun, menurut dia, hal itu dapat tercapai jika kebijakan yang dikeluarkan  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dapat menyentuh sektor UMKM dan sektor informal.

"Kalaupun diproyeksikan (pertumbuhan ekonomi Jakarta 2021) 5-5,4 persen begitu, saya kira itu adalah proyeksi yang wajar. Tetapi itupun kalau ada kebijakan yang menyentuh sektor UMKM dan sektor informal," kata Gilbert saat dihubungi, Selasa (22/12).

Gilbert menuturkan, kedua sektor itu hampir tidak tersentuh oleh kebijakan gubernur. Padahal, menurutnya, sektor UMKM dan informal merupakan sektor padat karya. Ia mencontohkan, pemulihan ekonomi saat krisis yang terjadi tahun 1998 didorong oleh sektor UMKM dan sektor informal. "Mereka yang kemudian bergerak untuk memulihkan (ekonomi)," ujarnya.

Dia menjelaskan, tidak tersentuhnya kedua sektor itu terlihat dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN yang justru dialihkan untuk proyek-proyek besar, seperti pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) dan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Padahal, kata dia, jika dana itu dapat digunakan untuk sektor UMKM dan informal, maka pertumbuhan ekonomi Jakarta dapat lebih tinggi lagi.

"Harusnya pertumbuhan 5-5,4 persen itu bisa lebih tinggi di atas yang diproyeksikan oleh Bank Indonesia. Kalau kebijakan itu betul-betul kebijakan yang menyentuh kedua sektor ini, sektor UMKM kemudian informal," jelas dia.

Sebab, sambung dia, kedua sektor tersebut yang mampu membangkitkan perekonomian Jakarta. Dibandingkan usaha-usaha besar lainnya yang hasilnya tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat."Jadi untuk mendorong perekonomian, mereka (usaha-usaha besar) ini belum tentu bisa cepat memulihkan. Yang lentur betul, mampu beradaptasi dengan cepat adalah sektor UMKM ini dan ini sektor yang sangat riil ada di masyarakat," papar dia.

"Kalau yang pengusaha raksasa, ini lebih mengutamakan orang-orang yang sebenarnya berpenghasilan tinggi dan tidak terlalu menyentuh di masyarakat. Hanya menyentuh segelintir orang saja," lanjut dia.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan, pada tahun 2020 perekonomian Ibu Kota mengalami resesi akibat pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Anies mengungkapkan, selama dua triwulan berturut-turut kondisi perekonomian Jakarta mengalami kontraksi."Di tahun 2020 ini, perekonomian Jakarta memasuki resesi. Selama 2 triwulan berturut-turut, perekonomian kita mengalami kontraksi," kata Anies dalam sambutan Forum Musrenbang perubahan RPJMD 2017-2022 yang disiarkan langsung melalui akun Youtube Pemprov DKI, Selasa (22/12).

Anies menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan kedua anjlok sebesar minus 8,23 persen. Kemudian, pada triwulan ketiga sebanyak minus 3,82 persen year on year (yoy).

Meski demikian, sambung Anies, DKI Jakarta diprediksi akan menjadi daerah yang paling cepat untuk bangkit kembali perekonomiannya. Sebab, jelas dia, berdasarkab laporan dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan DKI Jakarta, perekonomian DKI Jakarta diproyeksikan pada tahun 2021 itu kembali kepada pertumbuhan sekitar 5-5,4 persen."Jadi kalau tahun ini, kita minus 2 persen sampai minus 1,6 persen. Bank Indonesia memprediksikan tahun depan kita bisa 5-5,4 persen. Dan diharapkan di tahun 2022 itu membaik di kisaran 5,8-6,2 persen," jelas Anies.

"Artinya, ya kita mengalami kontraksi yang serius di tahun 2020, tapi mungkin kita termasuk yang paling cepat untuk kembali di dalam perputaran perekonomian karena kesiapan dari kita semua," sambungnya menjelaskan.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement