Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Alasan Banyak Orang Doakan Gus Dur Menurut Gus Mus

Selasa 22 Dec 2020 08:30 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Gus Dur dikenal dekat dengan semua kalangan semasa hidup KH Abdurrahman Wahid (Gus dur) ketika muda tengah membaca.

Gus Dur dikenal dekat dengan semua kalangan semasa hidup KH Abdurrahman Wahid (Gus dur) ketika muda tengah membaca.

Foto: wikimedia
Gus Dur dikenal dekat dengan semua kalangan semasa hidup

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Desember dikenal sebagai bulan Gus Dur, ini lantaran sosok bernama KH Abdurrahman Wahid itu wafat pada 30 Desember 2009  

KH  Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lahir dari lingkungan pondok pesantren. Semasa hidupnya, dia mengaji dari satu pesantren ke pesantren lainnya hingga menjadi orang nomor satu di negeri ini. Kendati demikian, dia juga mendapatkan status sebagai seorang budayawan yang memanusiakan manusia.  

Baca Juga

Gus Dur adalah ulama dan tokoh yang menjadikan budaya sebagai alat memanusiakan manusia. Karena itu, Gus Dur pun pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada kurun waktu 1982-1985. Bagi Gus Dur, kebudayaan adalah ‘Seni’, yang mengatur hidup dan menghasilkan pilar-pilar untuk menjaga tatanan sosial. 

Sahabat karib Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri yang lebih sering dipanggil Gus Mus mengatakan, Gus Dur dalam hidupkan sangat memanusiakan manusia seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Karena itu, tak heran jika sampai saat ini banyak yang mendoakan Gus Dur.

“Gus Dur adalah tokoh manusia yang ngerti manusia, yang  memanusiakan manusia. Seperti yang dicontohkan Rasulullah,” ujar Gus Mus, sebagimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika.  

Gus Dur merupakan budayawan kebanggan Nahdlatul Ulama (NU) dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Gus Dur dikenal sebagai kiai yang mendobrak kejumudan dan keteladanannya menginspirasi banyak orang. Gus Dur adalah pengayom dan bisa berdiri di tengah semua golongan.

Tidak hanya itu, Gus Dur juga memahami seluk-beluk konflik global dan mampu mengayomi perbedaan agama, suku dan ras. Dia menjadi jalan bagi keragaman. Jika kebudayaan tidak dikedepankan, tentunya di era globalisasi ini  jati diri masyarakat Indonesia akan digerus kebudayaan luar.

Beberapa literasi menyebutkan, Gus Dur lahir pada 7 September 1940. Namun, bagi Gusdurian atau para pengikutnya, Gus Dur lahir pada 4 Agustus 1940. Dia adalah putra pasangan KH Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Dia adalah cucu dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.

Gus Dur pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir dan juga di Universitas Baghdad, Irak. Di samping itu, Gus Dur juga pernah menuntut ilmu di Jerman dan Prancis. Jejak keilmuan Gus Dur dari Timur ke Barat itu kemundian membentuk Gus Dur sebagai tokoh relegius nasional yang modernis.

Namun, sekembalinya ke Tanah Air Gus dur juga menyisihkan pemikirannya pada masalah-masalah kebudayaan. Sekitar 1970-an, dia pun mulai banyak mengisi ceramah-ceramah tentang kesenian dan kesenian, termasuk di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Pada 1975, ceramah Gus Dur tentang kebudayaan Arab dan Islam bahkan membuat aktivis kesenian dan kebudayaan terhenyak. Dalam ceramahnya kal itu, Gus Dur menyinggung masalah kegagapan masyarakat Indonesia yang mengindentifikasikan kebudayaan Arab sama dengan kebudayaan Islam.

Sebagian masyarakat Indonesia saat itu memang cenderung memahami bahwa budaya yang islami adalah hal yang serba Arab. Sedangkan di luar itu adalah budaya non Islami yang harus ditenggelamkan. Kondisi inilah yang menjadi keprihatinan Gus dur dalam hidupnya

Gus Dur menilai kecenderungan tersebut tidaklah tepat. Karena, itu hanya akan menyebabkan masyarakat Indonesia tercerabut dari akar budayanya sendiri. Apalagi, budaya kebudayaan Arab tersebut belum tentu cocok dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Persoalan kebudayaan tersebut dijelaskan Gu Dur di dalam buku berjudul “Islam Kosmopolitan; Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan” yang diterbitkan The Wahid Institute. Ada beberapa hal yang bisa digarisbawahi dalam tulisan Gus Dur di buku tersebut.

Salah satunya yaitu terkait dengan adanya kecenderungan formalisasi ajaran Islam ke dalam seluruh manifestasi kebudayaan Indonesia. Contoh sederhananya, pakaian batik atau sarung diganti dengan jubah. Kemudian, kerudung diganti dengan cadar dan lain sebagainya. Jika demikian, maka dikhawatirkan kebudayaan asli Indonesia lama-lama akan terhapus.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA