Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Muslim Amerika Desak OKI Bersuara Soal Uighur

Jumat 18 Dec 2020 14:16 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Esthi Maharani

Muslim Uighur di Cina

Muslim Uighur di Cina

Foto: Dokrep
Hingga saat ini OKI belum menyuarakan kekhawatirannya terhadap kasus Uighur

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON --- Komunitas Muslim Amerika Serikat meminta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) lantang menyuarakan penahanan masal yang terjadi pada Muslim Uighur di Cina. Komunitas Muslim Amerika menuding badan global bersekongkol untuk melakukan genosida.

OKI yang terdiri dari 57 negara mayoritas Muslim sering menangani kasus-kasus yang melibatkan Muslim seperti penganiayaan terhadap Muslim, mengkritik kebijakan Israel, masalah Pakistan dan India serta lainnya. Namun organisasi yang berkantor pusat di Jeddah Arab Saudi itu hingga saat ini belum menyuarakan kekhawatirannya terhadap kasus yang terjadi di wilayah Barat Xinjiang, Cina.

Meski kelompok hak asasi mengatakan lebih dari sejuta orang Muslim Uighur berbahasa Turki ditahan di kamp-kamp sebagai upaya untuk memusnahkan tradisi Islam dan mengintegrasikan komunitas secara paksa. Bahkan pada  resolusi Maret 2019, OKI justru mengatakan pihaknya memuji upaya Republik Rakyat Cina dalam memberikan perawatan kepada warga Muslimnya.

Koalisi Organisasi Muslim Amerika Serikat termasuk Dewan Hubungan Amerika-Islam menuding negara-negara anggota OKI takut dengan kekuatan Cina.  

"Sangat jelas bahwa Cinna memiliki cengkeraman ekonomi di dunia Muslim dan telah mampu mengisolasi setiap negara Muslim ke dalam ketakutan bahkan memberikan basa-basi untuk perjuangan Uighur. Sementara beberapa negara Muslim akan memberikan basa-basi untuk tujuan seperti Palestina. Tentang masalah Uighur mereka terus membantu dalam terjadinya penindasan terlebih dengan menolak pencari suaka," kata Omar Sulieman, seorang sarjana Muslim Amerika dan aktivis hak asasi Manusia seperti dilansir Alaraby.co.uk pada Jumat (18/12).

Juru kampanye Uighur-Amerika, Rushan Abbas memperingatkan bahwa negara-negara dapat melihat ekspor kebijakan yang menargetkan Muslim ketika Cina mengejar inisiatif pembangunan infrastruktur Belt and Road yang besar.

"Cina memiliki rekam jejak dalam membeli dan menindas. Genosida orang Uighur bukanlah masalah internal China, tetapi masalah kemanusiaan," kata Abbas.

Amerika Serikat, yang tengah mengalami peningkatan persaingan  dengan Cina menyamakan perlakuan terhadap Uighur dengan tindakan Nazi Jerman. Mereka pun menyuarakan kekecewaan karena OKI karena belum angkat bicara.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adalah pemimpin langka dari dunia Islam yang mengkritik China, sementara Malaysia mengatakan tidak akan mengekstradisi orang Uighur. Cina menggambarkan kamp-kamp itu sebagai pusat pelatihan kejuruan dan mengatakan bahwa, seperti negara-negara Barat, mereka berupaya mengurangi daya tarik ekstremisme Islam.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA