Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Thursday, 16 Safar 1443 / 23 September 2021

Kuba Tolak Klaim Frekuensi Radionya Sebabkan Diplomat Sakit

Rabu 16 Dec 2020 10:20 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Bendera Kuba dan AS.

Bendera Kuba dan AS.

Foto: huffingtonpost.co.uk
Sejumlah diplomat AS di Havana Kuba dilaporkan sakit misterius akibat frekuensi radio

REPUBLIKA.CO.ID, HAVANA -- Kuba pada Selasa (15/12) menolak laporan pemerintah Amerika Serikat (AS) atas kondisi kesehatan diplomatnya di Havana. Laporan itu menyatakan frekuensi radio yang diarahkan adalah penjelasan paling masuk akal untuk penyakit misterius yang diderita oleh para diplomat AS di Havana.

Akademi Ilmu Pengetahuan Kuba mengatakan laporan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan, Teknik, dan Kedokteran Nasional AS tidak memberikan bukti ilmiah tentang keberadaan gelombang frekuensi radio. Laporan tersebut disusun atas permintaan Departemen Luar Negeri AS dan diterbitkan pada 6 Desember.

"Akademi Ilmu Pengetahuan Kuba tidak setuju dengan kesimpulan akhir mengenai penyebab penyakit," kata akademi tersebut dalam sebuah pernyataan yang dibacakan kepada wartawan oleh Presiden Kuba, Luis Velazquez.

Velazquez mengatakan penyelidikan tentang penyakit kesehatan ini disebabkan oleh kurangnya komunikasi yang lancar antara ilmuwan AS dan Kuba. Kuba mengatakan pemerintahan Donald Trump telah menggunakan insiden kesehatan untuk melanjutkan agenda politiknya dalam membongkar hubungan AS-Kuba.

Laporan dari AS ini bermula ketika 2016 hingga 2018 ada lusinan staf kedutaan AS yang sebagian besar di Kuba melaporkan gejala yang meliputi gangguan pendengaran, vertigo, sakit kepala, dan kelelahan. Pola yang konsisten dengan cedera otak traumatis ringan ini kemudian dikenal sebagai "sindrom Havana".

Kanada mengatakan lebih dari selusin staf kedutaan dan kerabatnya yang ditempatkan di Havana mengalami gejala serupa dengan diplomat AS. Pemerintahan Trump mengatakan para diplomat diserang oleh semacam senjata rahasia. Kuba telah berulang kali mengatakan tidak ada bukti untuk itu dan membantah terlibat.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA