Rabu 16 Dec 2020 00:35 WIB

Relawan Vaksin Covid-19 Pfizer Alami Bell's Palsy, Apa itu?

Bukan kali ini saja Bell's palsy dikaitkan dengan Covid-19.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda
Lima dosis vaksin Covid-19 Pfizer yang mendapat izin penggunaan darurat terlihat sebelum didistribusikan ke dokter dan perawat di Rumah Sakit Universitas George Washington, Senin 14 Desember 2020 di Washington.
Foto: AP/Jacquelyn Martin/AP POOL
Lima dosis vaksin Covid-19 Pfizer yang mendapat izin penggunaan darurat terlihat sebelum didistribusikan ke dokter dan perawat di Rumah Sakit Universitas George Washington, Senin 14 Desember 2020 di Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bell's palsy, kondisi kelumpuhan wajah, telah dilaporkan sebagai komplikasi yang muncul pada empat dari sekitar 19 ribu sukarelawan uji coba vaksin Covid-19 Pfizer di Amerika Serikat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS memang telah memberikan izin penggunaan darurat bagi vaksin Pfizer, tetapi ada peringatan reaksi alergi yang menjadi catatan.

Sementara di Inggris, peringatan reaksi alergi untuk penggunaan vaksin Pfizer dikeluarkan dalam waktu 24 jam setelah peluncuran vaksinasi. Itu terjadi setelah empat orang staf National Health Service (NHS) mengembangkan gejala alergi setelah diberikan vaksin.

Baca Juga

Namun, ini bukan pertama kalinya Bell's Palsy dikaitkan dengan Covid-19. Pada November lalu, kondisi kelumpuhan wajah juga dilaporkan menjadi gejala umum Covid-19, bahkan pada ibu hamil. Lalu apakah Bell's Palsy itu?

Seperti dilansir Times Now News, Bell's palsy adalah kelumpuhan saraf wajah. Pada kondisi ini, otot di wajah mengalami kelemahan atau kelumpuhan sementara. Ini biasanya terjadi ketika saraf yang mengontrol otot wajah meradang, bengkak, atau tertekan sehingga dapat menyebabkan satu sisi wajah terkulai atau menjadi kaku.

Menurut laporan, kasus kelumpuhan saraf wajah menjadi semakin umum di antara pasien Covid-19. Pasien yang bahkan tidak memiliki diagnosis Covid-19 yang dikonfirmasi melaporkan masalah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan pasien Covid-19 yang tidak bergejala juga dapat menderita komplikasi tersebut.

Dua penelitian yang dilakukan di Liverpool, Inggris dan Jepang menemukan bahwa SARS-CoV-2 mungkin bertanggung jawab atas peningkatan jumlah kelumpuhan wajah. Studi tersebut juga mengatakan bahwa dokter harus menyadari bahwa ini mungkin merupakan presentasi awal penyakit.

Sesuai dengan penelitian yang diterbitkan di BMJ, kasus kehamilan yang didiagnosis dengan Covid-19 didapat setelah seorang ibu hamil dirawat di rumah sakit karena mengalami kontraksi. Namun, dokter mencatat bahwa perifer kirinya mengalami kelumpuhan saraf wajah. Karena dia tidak memiliki penyebab yang jelas mengapa hal itu bisa terjadi, para dokter melakukan tes Covid-19 dan ternyata ia positif.

“Penyakit saraf wajah akut yang menyebabkan kelumpuhan wajah perifer umumnya dikaitkan dengan infeksi virus. Covid-19 dapat menjadi penyebab potensial kelumpuhan wajah perifer dan gejala neurologis bisa menjadi manifestasi pertama dan satu-satunya dari penyakit ini,” demikian laporan BMJ.

Karena Covid-19 telah dikaitkan dengan gejala neurologis, kemungkinan besar bahkan Bell's Palsy bisa dipicu oleh penyebab yang sama.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement